JAKARTA – Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nusantara (HIPNUSA), Muhammad Aditya Prabowo, mendorong perubahan pola pikir generasi muda Indonesia agar tidak hanya berorientasi menjadi tenaga kerja, tetapi juga memiliki kemampuan dan keberanian untuk membangun usaha. Gagasan tersebut diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara HIPNUSA dan UNUC-KISEKI JAPAN melalui PT KISEKI INSAN AMNORA dalam rangkaian acara pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) HIPNUSA DKI Jakarta. (1/11/2026)
Kerja sama tersebut diarahkan untuk mengintegrasikan fasilitasi edukasi bahasa Jepang dan pemberangkatan tenaga kerja ke Jepang dengan pendidikan kewirausahaan melalui Akademi Entrepreneur HIPNUSA. Melalui kolaborasi ini, HIPNUSA ingin memberikan pembekalan pola pikir kewirausahaan kepada generasi muda sebelum mereka memasuki dunia kerja internasional, sehingga pengalaman bekerja di luar negeri dapat menjadi modal untuk membangun kemandirian ekonomi setelah kembali ke Indonesia.
Gagasan tersebut disampaikan Aditya dalam sesi talk show yang menjadi bagian dari rangkaian pelantikan HIPNUSA DPW DKI Jakarta. Diskusi dipandu Direktur Akademi Entrepreneur HIPNUSA, Coach Bachtiar, dengan menghadirkan Aditya dan Direktur PT KISEKI INSAN AMNORA, Nadiawan Zainal Hizbullah, yang akrab disapa Zovi, sebagai narasumber.

Dalam diskusi tersebut, Aditya menyoroti pentingnya perubahan pendekatan dalam menghadapi persoalan pengangguran di Indonesia. Menurut dia, upaya mengatasi pengangguran tidak cukup hanya dilakukan dengan memperluas kesempatan kerja, tetapi juga harus diimbangi dengan pendidikan kewirausahaan agar masyarakat memiliki kemampuan menciptakan lapangan pekerjaan secara mandiri.
“Persoalan pengangguran tidak cukup diselesaikan dengan terus-menerus menciptakan pencari kerja. Kita juga harus membangun generasi yang memiliki keberanian, kemampuan, dan mentalitas untuk menjadi pengusaha,” ujar Aditya.
Ia menjelaskan, kesempatan bekerja di Jepang seharusnya tidak hanya dipandang sebagai sarana memperoleh penghasilan, tetapi juga sebagai proses pembelajaran untuk membangun masa depan. Pengalaman kerja, kedisiplinan, budaya profesional, kemampuan mengelola keuangan, serta jaringan yang diperoleh selama berada di Jepang dapat menjadi bekal penting ketika para pekerja kembali ke Indonesia dan mulai merintis usaha.
“Sejak awal mereka harus memiliki wawasan bahwa bekerja di Jepang bukan hanya untuk mendapatkan penghasilan. Mereka juga perlu mempersiapkan diri agar setelah kembali ke Indonesia memiliki kemampuan dan keberanian membangun usaha. Kami ingin mereka tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menjadi pengusaha dan menciptakan lapangan pekerjaan,” katanya.
Direktur PT KISEKI INSAN AMNORA, Nadiawan Zainal Hizbullah atau Zovi, menyambut baik gagasan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa dirinya pernah bekerja di Jepang dan memiliki pengalaman melihat sejumlah rekan sesama pekerja yang kembali ke Indonesia untuk mencoba membangun usaha. Namun, tidak semua mampu mempertahankan usahanya. Sebagian mengalami kegagalan dan akhirnya memilih kembali bekerja ke Jepang karena belum memiliki kesiapan untuk mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.
“Saya sendiri pernah bekerja di Jepang. Saya melihat banyak teman setelah pulang ke Indonesia mencoba membuka usaha, tetapi gagal. Akhirnya mereka kembali lagi bekerja ke Jepang. Bahkan, ada yang menjadi takut untuk mencoba membuka usaha kembali,” kata Zovi.
Berdasarkan pengalaman tersebut, Zovi menilai pembekalan kewirausahaan merupakan kebutuhan penting bagi calon pekerja yang akan berangkat ke Jepang. Ia mengapresiasi keterlibatan HIPNUSA yang tidak hanya memikirkan proses fasilitasi keberangkatan tenaga kerja, tetapi juga memberikan perhatian terhadap masa depan ekonomi mereka setelah kembali ke Tanah Air. Menurutnya, kolaborasi ini dapat menjadi langkah untuk memperluas wawasan dan membangun keberanian generasi muda dalam merintis usaha.
Sementara itu, Coach Bachtiar menjelaskan bahwa pola pikir entrepreneur tidak hanya dibutuhkan oleh seseorang yang menjalankan bisnis atau memiliki perusahaan. Setiap individu, apa pun profesi dan pekerjaannya, perlu memiliki pola pikir kewirausahaan agar mampu mengembangkan potensi, melihat peluang, meningkatkan kreativitas, serta menciptakan nilai tambah. Perspektif tersebut menjadi salah satu dasar pembinaan yang dikembangkan melalui Akademi Entrepreneur HIPNUSA.
Aditya menambahkan, penandatanganan MoU dengan KISEKI JAPAN diharapkan menjadi salah satu langkah untuk mendukung target HIPNUSA melahirkan 1.000 entrepreneur dalam satu tahun. Target tersebut akan didorong melalui pendidikan, pelatihan, pembinaan, pendampingan, serta pengembangan jejaring dan kolaborasi usaha. Ia menegaskan bahwa pencapaian target tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, sehingga organisasi tidak hanya menjadi tempat berhimpunnya para pengusaha, tetapi juga mampu menghadirkan program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Harapan saya, MoU ini tidak hanya menjadi dokumen kerja sama atau kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menjadi jembatan untuk mewujudkan target HIPNUSA melahirkan 1.000 entrepreneur dalam satu tahun. Kami ingin membangun generasi yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap menciptakan lapangan pekerjaan,” tegas Aditya.
Melalui kerja sama tersebut, HIPNUSA berharap dapat membangun model pembinaan yang menghubungkan pendidikan, pengalaman kerja internasional, dan pengembangan kewirausahaan. Kolaborasi ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat sumber daya manusia Indonesia agar memiliki pilihan masa depan yang lebih luas, baik sebagai tenaga profesional maupun sebagai pelaku usaha. Bagi HIPNUSA, keberhasilan pembangunan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya masyarakat yang memperoleh pekerjaan, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat menciptakan peluang usaha dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.









