Bingung Ingin Sukses? Mulailah dengan Menentukan Tujuan, Bukan Sekadar Keinginan

Share :

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nusantara (HIPNUSA) sedang berlatih golf di lapangan. Momen ayunan stik golf menjadi ilustrasi bahwa keberhasilan membutuhkan proses, latihan, kesabaran, dan tujuan yang jelas sebelum meraih kesuksesan dalam dunia usaha maupun kehidupan.
Baca Juga :

Belajar dari Ayunan Golf: Sebelum Bertanya Cara Sukses, Tentukan Dulu Tujuan Anda

Oleh: Muhammad Aditya Prabowo
Ketua Umum HIPNUSA

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti percakapan di grup WhatsApp para pengusaha UMKM. Salah seorang anggota bertanya kepada anggota lainnya, “Bagaimana caranya supaya bisa sukses?” Pertanyaan tersebut langsung memancing berbagai tanggapan. Ada yang menyarankan mencari mentor, ada yang mengatakan harus memiliki modal, ada yang menekankan pentingnya keberanian mengambil risiko, dan ada pula yang menyarankan untuk terus belajar.

Semua jawaban itu benar. Namun, ketika saya membaca percakapan tersebut, saya justru tergerak untuk mengajukan satu pertanyaan yang menurut saya jauh lebih mendasar.

“Sukses menjadi apa?”

Bagi saya, pertanyaan ini adalah titik awal dari setiap perjalanan. Sebab, bagaimana mungkin seseorang mengetahui jalan yang harus ditempuh jika tujuan akhirnya saja belum ditentukan? Tidak sedikit orang yang memiliki keinginan untuk sukses, tetapi belum memiliki gambaran yang jelas mengenai apa yang sebenarnya ingin dicapai.

Pengalaman pribadi saya ketika belajar bermain golf semakin menguatkan pemahaman tersebut.

Ketika pertama kali memegang stik golf, saya berpikir bahwa olahraga ini tidak akan terlalu sulit. Saya bahkan membuat target pribadi. Dalam bayangan saya, jika berlatih dengan serius selama satu hingga tiga bulan, saya sudah mampu memukul bola sejauh 200 meter, bahkan lebih.

Harapan itu ternyata jauh dari kenyataan.

Jangankan mampu memukul bola sejauh 200 meter, untuk menghasilkan pukulan lurus sejauh 50 meter saja sering kali saya gagal. Bola terkadang meluncur ke kanan, sesekali berbelok ke kiri, bahkan ada kalanya pukulan saya sama sekali tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Berkali-kali saya mencoba memperbaiki posisi tubuh, cara menggenggam stik, sudut ayunan, hingga keseimbangan badan. Dalam proses tersebut, saya pernah mengalami punggung terkilir karena terlalu memaksakan gerakan yang belum saya kuasai.

Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa niat yang besar tidak selalu diikuti dengan kemampuan yang besar. Niat hanyalah awal. Setelah itu, seseorang harus bersedia menjalani proses belajar, menerima koreksi, berlatih berulang kali, dan bersabar ketika hasil belum sesuai harapan.

Tanpa terasa, hampir dua tahun saya terus belajar bermain golf. Baru pada saat itulah saya memahami bahwa yang sedang saya latih bukan sekadar cara memukul bola. Saya sedang belajar tentang kesabaran, disiplin, konsistensi, pengendalian emosi, serta kerendahan hati untuk terus menerima masukan dari mereka yang lebih berpengalaman.

Dari lapangan golf, saya menemukan pelajaran yang sangat relevan dengan dunia usaha.

Dalam berbagai kesempatan berdiskusi dengan pelaku UMKM maupun anggota HIPNUSA, saya sering mendengar pertanyaan, “Bagaimana cara menjadi pengusaha sukses?” Namun, ketika saya bertanya kembali, “Usaha apa yang ingin Anda bangun?” atau “Lima tahun ke depan Anda ingin dikenal sebagai apa?”, tidak sedikit yang belum memiliki jawabannya.

Inilah persoalan yang sering kali tidak disadari.

Banyak orang sibuk memikirkan modal, keuntungan, bahkan omzet, padahal arah usahanya sendiri belum jelas. Ada yang ingin menjadi pengusaha hanya karena melihat orang lain berhasil. Ada yang ingin memulai bisnis karena mengikuti tren. Bahkan ada yang merasa gagal sebelum memulai karena menganggap dirinya tidak memiliki modal.

Padahal, menurut saya, modal terbesar bukanlah uang.

Modal terbesar adalah tujuan yang jelas.

Ketika seseorang memiliki tujuan, ia akan mengetahui ilmu apa yang harus dipelajari. Ia akan memahami keterampilan apa yang perlu ditingkatkan. Ia akan mencari mentor yang tepat, membangun jaringan yang relevan, dan memiliki alasan yang kuat untuk tetap bertahan ketika menghadapi kesulitan.

Sebaliknya, tanpa tujuan yang jelas, seseorang akan mudah kehilangan arah. Hari ini tertarik pada bisnis kuliner, besok berpindah ke bisnis fesyen, kemudian tergoda bisnis properti, lalu mencoba usaha lain hanya karena sedang ramai diperbincangkan. Akibatnya, energi, waktu, dan pikiran habis untuk berpindah-pindah, bukan untuk bertumbuh.

Dunia usaha tidak berbeda dengan belajar bermain golf.

Tidak ada pegolf yang langsung mahir hanya karena membeli stik terbaik.

Begitu pula tidak ada pengusaha yang langsung berhasil hanya karena memiliki modal besar.

Kemampuan lahir dari latihan. Pengalaman lahir dari kegagalan. Kepercayaan diri lahir dari proses yang dijalani secara konsisten.

Sebagai Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nusantara (HIPNUSA), saya ingin mengajak seluruh anggota dan masyarakat Indonesia untuk mengubah cara berpikir tentang kesuksesan.

Jangan mulai dengan bertanya, “Bagaimana cara sukses?”

Mulailah dengan bertanya, “Saya ingin menjadi apa?”

Ketika tujuan sudah jelas, langkah pertama akan terasa lebih ringan. Jalan yang harus ditempuh akan lebih mudah dipahami. Hambatan tidak lagi dianggap sebagai alasan untuk berhenti, melainkan sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Pengalaman hampir dua tahun belajar golf mengingatkan saya bahwa tidak ada keberhasilan yang lahir secara instan. Setiap pukulan yang meleset adalah pelajaran. Setiap kesalahan adalah bahan evaluasi. Setiap latihan adalah investasi yang suatu hari akan memberikan hasil.

Begitu pula dalam membangun usaha.

Jangan takut menjadi pemula.

Jangan malu untuk terus belajar.

Dan jangan pernah menyerah hanya karena hasil hari ini belum sesuai harapan.

Kesuksesan bukan ditentukan oleh seberapa cepat seseorang mencapai garis akhir, melainkan oleh seberapa jelas tujuan yang dimiliki, seberapa tekun ia menjalani proses, dan seberapa kuat ia bertahan ketika menghadapi tantangan. Karena pada akhirnya, proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan membentuk karakter yang mampu menjaga keberhasilan itu sendiri.