Bukber Developer Cirebon: Ketua Umum HIPNUSA Bahas Tantangan Penjualan Properti hingga Strategi Akuisisi Proyek Mangkrak

Share :

Baca Juga :

CIREBON — Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nusantara (HIPNUSA), Aditya, menghadiri kegiatan silaturahmi dan buka puasa bersama (bukber) dengan para developer di Cirebon yang digelar di Sundaze Coffee & Eatery. Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang kebersamaan di bulan Ramadan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai forum diskusi mengenai kondisi bisnis properti dan strategi pengembangan proyek ke depan. (10/03/2026).

Dalam diskusi yang berlangsung santai namun serius itu, sejumlah developer menyampaikan berbagai tantangan yang tengah dihadapi industri properti, mulai dari perlambatan penjualan hingga peluang akuisisi proyek perumahan mangkrak.

Salah satu developer, Lingga, membuka diskusi dengan menyoroti kondisi pasar properti yang menurutnya saat ini sedang mengalami penurunan dari sisi penjualan.

Ia mengatakan bahwa beberapa pengembang mulai merasakan tekanan pasar sehingga perlu mencari strategi baru agar proyek yang sedang berjalan tetap dapat berkembang.

“Kami melihat saat ini penjualan properti tidak sekuat sebelumnya. Karena itu kami ingin mendengar pandangan dan arahan terkait langkah bisnis yang bisa dilakukan ke depan,” ujarnya dalam diskusi tersebut.

Fenomena ini juga menjadi perhatian dalam berbagai laporan sektor properti. Sejumlah faktor seperti daya beli masyarakat, kebijakan suku bunga kredit perumahan, serta kondisi ekonomi nasional turut mempengaruhi dinamika pasar properti.

Meski demikian, kebutuhan hunian di Indonesia masih tergolong tinggi. Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Indonesia masih menghadapi kekurangan pasokan rumah atau backlog perumahan yang mencapai jutaan unit, sehingga sektor properti dinilai masih memiliki potensi pertumbuhan yang besar dalam jangka panjang.

Diskusi kemudian dilanjutkan oleh Apri, yang menyampaikan apresiasi kepada Ketum atas pendampingan yang diberikan kepada para developer, khususnya saat proses komunikasi dengan BTN Cirebon.

Menurutnya, kehadiran asosiasi Himpunan Pengusaha Nusantara sangat membantu developer dalam memahami berbagai aspek penting dalam pengembangan proyek perumahan, terutama terkait dengan pembiayaan dan kerja sama dengan lembaga keuangan.

“Terima kasih atas pendampingan dari Bapak saat kami melakukan komunikasi dengan BTN Cirebon. Ini sangat membantu kami dalam memahami proses pembiayaan proyek perumahan,” katanya.

Suasana diskusi semakin hangat ketika Nur, salah satu peserta diskusi lainnya, mengangkat topik mengenai peluang akuisisi perumahan mangkrak.

Ia menanyakan langkah yang sebaiknya dilakukan developer apabila ingin mengambil alih proyek perumahan yang telah lama terhenti.

Menanggapi hal tersebut, Aditya menjelaskan bahwa developer perlu berhati-hati sebelum memutuskan untuk mengakuisisi proyek yang mangkrak karena hampir selalu terdapat permasalahan yang melatarbelakanginya.

“Tidak mungkin sebuah proyek mangkrak tanpa sebab. Biasanya ada persoalan di belakangnya, baik dari sisi legalitas, pembiayaan maupun manajemen,” ujar Aditya.

Ia menekankan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan legalitas kepemilikan lahan serta seluruh perizinan proyek.

Selain itu, developer juga perlu mengetahui status sertifikat tanah, termasuk apakah sertifikat tersebut berada di tangan pemilik atau sedang dijaminkan di bank.

Jika sertifikat berada di bank, maka proses penyelesaiannya harus melibatkan para pemegang saham perusahaan yang memiliki proyek tersebut.

Menurut Aditya, analisis yang matang sejak awal menjadi kunci dalam pengembangan proyek properti.

Ia menegaskan bahwa developer tidak boleh mengabaikan feasibility study atau studi kelayakan proyek, terutama saat melakukan akuisisi lahan.

“Secara analisa saya, sektor properti ke depan masih cukup baik. Yang penting adalah bagaimana kita memulai proyek dengan perencanaan yang matang, terutama dalam akuisisi lahan dan studi kelayakan,” jelasnya.

Ia juga menyarankan bahwa dalam kondisi tertentu, langkah paling aman bagi developer adalah membeli lahan secara langsung atau beli putus apabila lokasi dinilai memiliki potensi pasar yang baik.

Namun jika tujuan pengambilalihan hanya sebatas investasi pengelolaan proyek, developer sebaiknya mempertimbangkan untuk mencari lahan kosong yang lebih aman dari sisi legalitas.

Dalam kesempatan tersebut, Aditya juga menekankan bahwa perkembangan sektor properti sangat berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menurutnya, aktivitas UMKM sering menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan kawasan permukiman baru.

Menutup diskusi, Aditya mengajak para developer dan pelaku usaha di Cirebon untuk memperkuat jaringan dan kolaborasi melalui organisasi pengusaha.

“Ayo bersama-sama kita membangun ekosistem bisnis yang sehat dan saling mendukung. HIPNUSA hadir sebagai wadah kolaborasi bagi para pengusaha di berbagai sektor, termasuk properti,” ujarnya.

Acara buka puasa bersama tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Para developer berharap kegiatan silaturahmi seperti ini dapat terus dilakukan sebagai ruang bertukar pengalaman dan memperkuat kerja sama dalam menghadapi dinamika industri properti di masa mendatang.