Oleh: Muhammad Aditya Prabowo
|Ketua Umum HIPNUSA
Dalam menjalankan usaha, insting merupakan salah satu kemampuan penting yang dimiliki seorang pengusaha. Pengalaman menghadapi pasar, bertemu pelanggan, mengelola tim, dan menyelesaikan berbagai persoalan membuat seorang pengusaha semakin terlatih dalam membaca peluang. Namun, perkembangan dunia usaha menuntut kita untuk tidak hanya mengandalkan insting. Sebuah peluang yang terlihat menarik tetap harus diuji dengan perhitungan yang matang. Karena itu, seorang pengusaha perlu bergerak dari insting menuju angka, kemudian menjadikan angka tersebut sebagai dasar untuk membangun bisnis yang sehat, berkembang, dan berkelanjutan.
Angka memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi sebuah bisnis. Ketika melihat peluang, kita perlu menghitung kebutuhan modal, biaya operasional, harga pokok, margin keuntungan, arus kas, potensi pasar, waktu pengembalian modal, dan risiko yang mungkin terjadi. Dengan perhitungan tersebut, keputusan tidak lagi hanya didasarkan pada keyakinan bahwa suatu usaha akan berhasil. Kita memiliki dasar untuk menentukan apakah sebuah peluang layak dijalankan, perlu diperbaiki, membutuhkan mitra, atau justru sebaiknya ditinggalkan. Insting membantu kita menemukan peluang, sedangkan angka membantu kita memastikan apakah peluang tersebut layak menjadi bisnis.
Namun, memiliki perhitungan yang baik juga belum tentu membuat seorang pengusaha mampu mengerjakan semuanya sendiri. Dalam perjalanan membangun usaha, kita akan menemukan keterbatasan. Ada pengusaha yang mempunyai ide tetapi kekurangan modal. Ada yang memiliki modal tetapi belum mempunyai jaringan pemasaran. Ada yang mempunyai produk bagus tetapi kesulitan memperluas pasar. Sebaliknya, ada pihak yang mempunyai jaringan luas tetapi membutuhkan produk dan mitra yang tepat. Kondisi seperti inilah yang seharusnya mempertemukan para pengusaha dalam sebuah kolaborasi.
Sebagai Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nusantara (HIPNUSA), saya mengajak sahabat HIPNUSA untuk tidak melihat keterbatasan sebagai alasan berhenti menjalankan sebuah peluang. Apabila kita belum mampu mengerjakannya sendiri, maka carilah mitra yang tepat. Kita tidak harus menguasai semua bidang dan tidak harus memiliki seluruh sumber daya. Yang perlu kita miliki adalah kemampuan untuk mengetahui kekuatan kita, memahami kekurangan kita, kemudian menemukan orang yang dapat melengkapinya. Dari sinilah sebuah kolaborasi yang sehat dapat dibangun.
Kolaborasi bukan berarti menyerahkan bisnis kepada orang lain. Kolaborasi adalah mempertemukan kekuatan yang berbeda untuk menghasilkan kemampuan yang lebih besar. Pengusaha yang memiliki modal dapat bekerja sama dengan pengusaha yang mempunyai kemampuan operasional. Pemilik produk dapat berkolaborasi dengan pemilik jaringan distribusi. Pemilik lahan dapat bertemu dengan pengembang yang mempunyai kemampuan membangun proyek. Pelaku UMKM dapat bekerja sama dengan perusahaan yang memiliki akses pasar lebih luas. Selama hak, kewajiban, pembagian hasil, risiko, dan tujuan kerja sama dibicarakan secara terbuka, kolaborasi dapat menjadi jalan untuk mempercepat pertumbuhan usaha.
Semangat tersebut sejalan dengan nilai gotong royong yang hidup dalam Pancasila. Dalam kehidupan ekonomi, semangat gotong royong dapat diterjemahkan menjadi kemauan untuk bekerja bersama, saling memberikan manfaat, dan membangun kekuatan melalui kebersamaan. Bagi pengusaha, nilai tersebut sangat relevan. Persaingan tetap diperlukan untuk mendorong kualitas, tetapi persaingan tidak harus menghilangkan ruang untuk bekerja sama. Ada banyak peluang yang justru menjadi lebih besar ketika beberapa pengusaha menggabungkan kemampuan dan sumber daya yang mereka miliki.
Karena itu, saya ingin mendorong HIPNUSA menjadi ruang pertemuan yang produktif bagi para pengusaha. Jangan berhenti pada kegiatan berkumpul, bertukar kartu nama, atau sekadar menambah kontak. Setiap pertemuan harus membuka kemungkinan lahirnya transaksi, kemitraan, investasi, perluasan pasar, pertukaran pengetahuan, dan kerja sama nyata. Kita harus mulai membiasakan diri bertanya kepada sesama anggota: usaha apa yang sedang dikembangkan, kebutuhan apa yang sedang dicari, kemampuan apa yang dapat ditawarkan, dan peluang apa yang dapat dikerjakan bersama.
Budaya seperti inilah yang ingin kita bangun di HIPNUSA. Pengusaha yang sudah berkembang membantu membuka akses bagi pengusaha yang sedang bertumbuh. Pengusaha yang mempunyai pengalaman membagikan pengetahuannya kepada anggota lain. Pengusaha yang mendapatkan peluang besar dapat melihat apakah terdapat bagian dari peluang tersebut yang dapat dikerjakan bersama anggota lainnya. Dengan demikian, organisasi bukan hanya menjadi tempat berhimpun, tetapi berkembang menjadi ekosistem usaha yang menghasilkan manfaat ekonomi bagi anggotanya.
Pada akhirnya, perjalanan membangun bisnis membutuhkan keberanian sekaligus kedisiplinan. Gunakan insting untuk melihat peluang, tetapi gunakan angka untuk menguji kelayakannya. Ketika kemampuan sendiri belum cukup, jangan memaksakan semuanya berjalan sendiri. Temukan mitra yang tepat, bangun kepercayaan, sepakati aturan kerja sama dengan jelas, kemudian tumbuh bersama melalui kolaborasi.
Saya mengajak seluruh sahabat HIPNUSA untuk menjadikan kolaborasi sebagai budaya dalam membangun usaha. Mari mempertemukan peluang dengan kemampuan, modal dengan gagasan, produk dengan pasar, serta pengalaman dengan semangat pengusaha baru. Kita tidak harus menjadi hebat sendirian. Kita dapat menjadi lebih kuat ketika mempunyai keberanian untuk saling melengkapi dan bekerja bersama.
Dari insting menuju angka, dari angka menuju keputusan, dan dari keputusan menuju bisnis yang sukses. Ketika tidak mampu berjalan sendiri, berkolaborasilah. Dengan semangat gotong royong, kita tumbuhkan usaha, kita kuatkan jaringan, dan kita bangun kemajuan bersama.








