Oleh: M. Aditya Prabowo
Kalau kita jujur, organisasi itu gambaran kecil kehidupan.
Ada yang selalu semangat datang paling awal.
Ada yang datang kalau diingatkan.
Ada juga yang… ya begitu lah. Diam. Nunggu disuruh. Bahkan kadang seperti “tidur” di dalam organisasi.
Itu wajar. Itu hukum alam.
Dalam setiap kelompok, pasti ada perbedaan karakter, motivasi, dan cara bergerak. Tidak semua orang punya energi yang sama. Tidak semua orang punya tujuan yang sama.
Tapi masalahnya bukan di situ.
Masalahnya adalah ketika orang ikut organisasi tanpa tahu tujuannya.
Istilah Saya: “KEBO MOGOK”
Saya sering menyebut karakter tertentu dalam organisasi dengan istilah:
KEBO MOGOK
Kalau ditarik, dia malah narik kita.
Kalau didorong, dia malah nendang kita.
Dia ada di organisasi, tapi tidak benar-benar hadir.
Ikut rapat, tapi tidak ikut berpikir.
Ikut kegiatan, tapi tidak ikut bertanggung jawab.
Fenomena ini dalam ilmu perilaku organisasi dikenal sebagai social loafing, yang pertama kali diteliti oleh Maximilien Ringelmann. Intinya, ketika kerja kelompok, sebagian orang cenderung mengurangi usaha karena merasa ada orang lain yang akan bekerja lebih keras.
Jadi ini bukan sekadar soal malas. Ini fenomena sosial yang memang sering terjadi.
Saat Ada Peluang Bisnis, Kenapa Ramai?
Begitu organisasi mulai bicara proyek, usaha, atau peluang ekonomi—mendadak banyak yang aktif.
Yang tadinya diam, tiba-tiba punya banyak ide.
Yang jarang hadir, mulai rajin muncul.
Kenapa?
Karena manusia bergerak sesuai kebutuhan. Teori kebutuhan dari Abraham Maslow menjelaskan bahwa perilaku manusia didorong oleh kebutuhan—mulai dari kebutuhan dasar sampai aktualisasi diri.
Sementara menurut Peter Drucker, peluang selalu muncul dari perubahan. Dan ketika perubahan itu bernilai ekonomi, daya tariknya semakin kuat.
Di sinilah kedewasaan organisasi diuji:
Apakah kita akan berebut?
Atau berkolaborasi?
Organisasi Itu Sekolah Kehidupan
Organisasi bukan cuma tempat kumpul.
Di dalamnya kita belajar:
- Belajar beradab dan menghargai perbedaan
- Belajar komunikasi dan manajemen konflik
- Belajar hukum dan tata kelola
- Belajar kepemimpinan
- Belajar membangun usaha bersama
Menurut Robert Putnam, organisasi membangun modal sosial—kepercayaan, jaringan, dan kerja sama yang membuat komunitas lebih kuat.
Artinya, aktif di organisasi itu investasi karakter.
Jangan Jadi Ikut-ikutan
Kadang kita terlalu fokus pada jabatan dan peluang.
Padahal pertanyaan paling penting adalah:
“Saya ini berorganisasi untuk apa?”
Kalau hanya ikut-ikutan, kita tidak akan bertumbuh.
Kalau hanya mengejar peluang, kita tidak akan belajar nilai.
Dalam teori perkembangan kelompok dari Bruce Tuckman, konflik dan perbedaan itu wajar. Tapi kelompok yang dewasa akan melewati fase itu dan menjadi solid.
Dinamika itu hukum alam.
Kedewasaan itu pilihan.
Kutipan untuk Kita Semua
Sebagai penguat semangat, mari kita renungkan beberapa kutipan ini:
“Coming together is a beginning, keeping together is progress, working together is success.”
— Henry Ford
Dan izinkan saya menambahkan kutipan untuk HIPNUSA:
“Organisasi bukan tempat mencari siapa paling penting,
tapi tempat belajar menjadi manusia yang lebih berarti.”
Yuk, Belajar Bersama dengan Berorganisasi
Daripada sibuk mengkritik yang tidak bergerak, lebih baik kita jadi penggerak.
Daripada jadi “kebo mogok”, lebih baik jadi motor penggerak.
Karena sejatinya, organisasi bukan soal siapa paling terlihat.
Tapi siapa yang paling bertumbuh.
Mari kita belajar bersama.
Mari kita dewasa bersama.
Mari kita kuatkan HIPNUSA dengan kesadaran, bukan sekadar kehadiran.
HIPNUSA Maju. Anggotanya Tumbuh. Organisasinya Tangguh.









