Oleh: Muhammad Aditya Prabowo
|Ketua Umum HIPNUSA
Sore itu, saya mengundang Kepala Bidang Bisnis dan Investasi HIPNUSA, Icha, bersama Wakil Kepala Bidang, Roby, untuk berdiskusi di sebuah kafe di kawasan Summarecon Bekasi. Pertemuan itu berlangsung sederhana, ditemani secangkir kopi dan suasana yang hangat. Namun, topik yang kami bahas bukanlah sesuatu yang ringan. Kami berbicara tentang arah organisasi, manfaat berorganisasi, dan sebuah pertanyaan yang hingga kini masih sering saya terima dari banyak orang. (16/07/2026)
“Mengapa memilih memimpin organisasi UMKM, padahal sebelumnya lebih dikenal sebagai pelaku di dunia real estate dan properti?”
Bagi saya, pertanyaan tersebut bukan sekadar rasa ingin tahu. Pertanyaan itu adalah kesempatan untuk menjelaskan alasan mengapa HIPNUSA lahir, sekaligus mempertegas arah perjuangan organisasi ini.
Selama bertahun-tahun saya berkecimpung di sektor real estate dan properti. Dunia itu mengajarkan banyak hal tentang bagaimana sebuah industri mampu menggerakkan perekonomian. Berbagai kajian ekonomi menunjukkan bahwa sektor properti memiliki sekitar 185 efek berganda (multiplier effect) yang menghidupkan berbagai bidang usaha, mulai dari industri semen, baja, keramik, kaca, furnitur, logistik, transportasi, jasa keuangan, hingga perdagangan. Ketika sektor properti bertumbuh, ratusan sektor lain ikut bergerak. Karena itulah properti sering disebut sebagai salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, memasuki tahun 2023 saya mulai melihat sebuah kenyataan yang mengusik pikiran. Di berbagai daerah masih banyak kawasan perumahan yang telah selesai dibangun, tetapi belum dihuni secara optimal. Rumah-rumah berdiri kokoh, namun belum sepenuhnya menjadi ruang hidup bagi masyarakat. Kondisi ini membuat saya bertanya dalam hati, di mana sebenarnya letak persoalannya?
Padahal pemerintah telah menunjukkan komitmen yang besar melalui berbagai kebijakan, salah satunya Program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Persyaratan diperluas, batas penghasilan masyarakat penerima dinaikkan, tenor pembiayaan diperpanjang agar cicilan semakin terjangkau, dan berbagai stimulus diberikan untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Kebijakan tersebut merupakan langkah yang sangat baik untuk memperluas akses masyarakat terhadap hunian.
Namun saya merasa masih ada satu mata rantai yang belum tersambung dengan kuat.
Saya mulai membaca berbagai laporan ekonomi, berdiskusi dengan pelaku usaha, mengamati kondisi di lapangan, hingga akhirnya saya menemukan sebuah fakta yang mengubah cara pandang saya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa lebih dari 99 persen unit usaha di Indonesia merupakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Selain itu, UMKM memberikan kontribusi sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional serta menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja Indonesia. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi bangsa sesungguhnya bukan hanya bertumpu pada perusahaan-perusahaan besar, tetapi berada di tangan jutaan pelaku UMKM yang setiap hari bekerja, berproduksi, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga roda perekonomian tetap berputar.
Ketika membaca data tersebut, saya semakin memahami bahwa jika ingin membangun ekonomi Indonesia secara berkelanjutan, maka yang harus diperkuat bukan hanya sektor hilir seperti pembangunan perumahan atau infrastruktur, tetapi juga fondasi ekonominya, yaitu para pelaku UMKM.
Sebab ketika UMKM berkembang, pendapatan masyarakat meningkat. Ketika pendapatan meningkat, daya beli ikut menguat. Saat daya beli meningkat, perdagangan bergerak, industri berkembang, jasa bertumbuh, dan pada akhirnya sektor properti pun ikut menikmati dampaknya. Dengan kata lain, memperkuat UMKM bukan berarti meninggalkan dunia properti, melainkan memperkuat pondasi yang akan menghidupkan seluruh rantai ekonomi nasional.
Saat itulah saya mengambil sebuah kesimpulan sederhana, tetapi sangat mendasar. Selama ini kita terlalu sering melihat ekonomi dari ujungnya, padahal kekuatan sesungguhnya berada di hulunya. Rumah tidak akan terisi hanya karena bangunannya berdiri megah. Rumah akan hidup ketika masyarakat memiliki pekerjaan, penghasilan yang layak, usaha yang berkembang, dan masa depan yang lebih baik. Di sinilah saya meyakini bahwa membangun UMKM berarti sedang membangun daya beli masyarakat, memperkuat kelas menengah, sekaligus menggerakkan seluruh ekosistem ekonomi Indonesia.
Dari pemahaman itulah lahir sebuah gagasan besar.
Pada tahun 2024, saya bersama rekan-rekan mendirikan Himpunan Pengusaha Nusantara (HIPNUSA).
HIPNUSA tidak lahir karena mengikuti tren banyaknya organisasi. HIPNUSA juga bukan sekadar tempat berkumpul para pengusaha. Organisasi ini lahir karena keyakinan bahwa Indonesia membutuhkan ruang kolaborasi yang mampu memperkuat para pelaku usaha agar mampu bertumbuh, naik kelas, dan menjadi bagian dari pembangunan ekonomi nasional.
Oleh karena itu, saya selalu menyampaikan kepada seluruh anggota HIPNUSA agar tidak pernah ragu mengenai arah organisasi ini.
Arah kita sangat jelas.
Kita berada di dalam ekosistem ekonomi yang memiliki 185 efek berganda, sehingga tugas kita bukan hanya membangun bisnis masing-masing, tetapi juga membangun manusianya. Kita hadir untuk membina, mengedukasi, membuka akses jaringan, mempertemukan peluang usaha, menciptakan kolaborasi, memperkuat daya saing, dan mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha Indonesia yang tangguh, inovatif, dan berintegritas.
Saya meyakini bahwa organisasi tidak diukur dari seberapa banyak anggotanya, melainkan dari seberapa besar manfaat yang mampu dihadirkannya. Organisasi yang besar adalah organisasi yang melahirkan solusi, bukan sekadar aktivitas. Organisasi yang kuat adalah organisasi yang membuat anggotanya bertumbuh bersama.
Di tengah diskusi sore itu, saya juga menyampaikan sebuah filosofi sederhana yang selalu saya pegang dalam menjalani kehidupan maupun memimpin organisasi.
Saya sering memperhatikan semut.
Ketika siang hari kita melihat tanah yang rata, mungkin tidak ada yang terlihat istimewa. Namun ketika pagi tiba, muncul gundukan tanah kecil hasil kerja mereka. Tidak ada sorotan. Tidak ada panggung. Tidak ada tepuk tangan. Yang ada hanyalah kerja sama, disiplin, dan konsistensi.
Semut mengajarkan kepada kita bahwa pekerjaan besar tidak selalu dilakukan dengan suara yang keras. Banyak perubahan besar justru lahir dari kerja yang tenang, terencana, dan dilakukan secara terus-menerus.
Nilai itulah yang ingin saya tanamkan kepada seluruh keluarga besar HIPNUSA. Kita tidak perlu sibuk mengejar pengakuan. Yang harus kita kejar adalah kebermanfaatan. Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak akan menilai kita dari seberapa sering kita berbicara, melainkan dari seberapa besar dampak yang kita berikan.
Ada satu pesan lagi yang selalu saya titipkan kepada seluruh anggota HIPNUSA.
Jangan pernah menjadikan organisasi, pekerjaan, ataupun tempat belajar sebagai batu loncatan. Istilah itu sering kali membuat seseorang mudah meninggalkan proses sebelum benar-benar selesai belajar.
Saya lebih memilih menggunakan istilah anak tangga.
Mengapa?
Karena setiap anak tangga mengajarkan proses. Setiap langkah memberikan pengalaman. Setiap pijakan membentuk karakter, menambah ilmu, memperkuat mental, dan mempersiapkan energi untuk melangkah lebih tinggi. Tidak ada satu pun anak tangga yang dapat dilewati jika kita ingin sampai ke puncak dengan kokoh.
Begitulah saya memandang perjalanan hidup, perjalanan usaha, dan perjalanan organisasi. Kesuksesan bukan ditentukan oleh seberapa cepat kita berpindah tempat, tetapi oleh seberapa sungguh-sungguh kita menjalani setiap proses yang ada di hadapan kita.
Saya percaya, apabila seluruh anggota HIPNUSA terus menjaga konsistensi, memperkuat kolaborasi, saling mendukung, dan terus menghasilkan karya nyata, maka organisasi ini tidak hanya akan tumbuh menjadi organisasi pengusaha berskala nasional, tetapi juga mampu membawa nama Indonesia ke tingkat internasional.
Mari kita menjadi organisasi yang hadir bukan hanya untuk anggotanya, tetapi juga untuk masyarakat. Mari kita buktikan bahwa pengusaha Indonesia tidak hanya mampu menciptakan keuntungan, tetapi juga mampu melahirkan manfaat, membuka lapangan pekerjaan, membangun ekonomi kerakyatan, dan menjadi bagian dari solusi bagi bangsa.
Karena pada akhirnya, organisasi bukanlah tempat mencari popularitas. Organisasi adalah tempat melahirkan manfaat, membangun peradaban ekonomi, dan meninggalkan warisan yang dapat dirasakan oleh generasi berikutnya.
Itulah alasan mengapa saya memilih membangun HIPNUSA. Bukan karena tren, bukan karena ambisi pribadi, melainkan karena saya percaya bahwa ketika UMKM tumbuh, Indonesia akan semakin kuat. Dan ketika kita bekerja dengan hati, melangkah setahap demi setahap layaknya menaiki anak tangga, tidak ada cita-cita yang terlalu tinggi untuk diwujudkan bersama.
“Organisasi yang hebat bukan dibangun oleh orang-orang yang ingin terlihat besar, tetapi oleh mereka yang setiap hari bekerja dalam senyap untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi sesama.”
— Aditya









