Oleh: Dr. H. Nurmasihin, SST., M.Pd., M.Kom., C.C
(Sekretaris DPW HIPNUSA Jabar)
Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak, menatap perjalanan yang telah kita tempuh, lalu bertanya dengan jujur: ke mana sebenarnya arah kapal yang sedang kita naiki bersama?
Indonesia hari ini mengingatkan saya pada sebuah kapal besar yang telah mengarungi lautan selama puluhan tahun. Kapal itu masih berdiri, masih berlayar, bahkan dari kejauhan masih tampak kokoh. Namun, bila kita mendekat, terlihat retakan-retakan kecil pada lambungnya. Air mulai masuk sedikit demi sedikit. Mungkin belum cukup untuk membuat kapal tenggelam hari ini, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa ada sesuatu yang harus segera diperbaiki.
Para awak kapal bekerja tanpa mengenal lelah. Mereka menimba air, memperbaiki bagian yang rusak, dan berusaha menjaga agar perjalanan tetap berlangsung. Namun, ketika kebocoran terus bertambah sementara perbaikannya berjalan lebih lambat, kita perlu bertanya: apakah yang kita lakukan sudah menyentuh akar persoalan?
Yang sering kali lebih mengkhawatirkan bukanlah retakan itu sendiri, melainkan ketika kita memilih untuk tidak mengakuinya. Ketika suara-suara yang mengingatkan dianggap sebagai ancaman, ketika kritik dipersepsikan sebagai permusuhan, dan ketika kenyataan ditutupi demi menjaga kesan bahwa semuanya baik-baik saja, sesungguhnya kita sedang membiarkan masalah tumbuh lebih besar daripada keberanian kita untuk menyelesaikannya.
Bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering menemukan hal serupa?
Korupsi perlahan dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Ketimpangan diterima seolah merupakan konsekuensi yang tidak bisa dihindari. Hukum kadang terasa lebih tajam kepada yang lemah daripada kepada yang memiliki kuasa. Di saat yang sama, kita sering lebih sibuk mempercantik tampilan daripada memperkuat fondasi.
Seperti kapal yang dicat ulang agar tampak indah, sementara kayu-kayu penyangganya mulai rapuh dimakan usia.
Tidak ada kapal yang langsung tenggelam hanya karena satu retakan. Sebagian masih dapat diselamatkan dengan perbaikan yang tepat. Namun, ada saat ketika tambalan tidak lagi cukup. Pada titik itulah keberanian dibutuhkan—bukan keberanian untuk saling menyalahkan, melainkan keberanian untuk berkata dengan jujur bahwa perubahan memang diperlukan.
Mengakui kelemahan bukanlah tanda menyerah.
Sebaliknya, itulah awal dari sebuah ikhtiar untuk bangkit.
Karena sesungguhnya yang paling berharga dalam sebuah perjalanan bukanlah kapal itu sendiri, melainkan orang-orang yang berada di dalamnya.
Itulah sebabnya sekoci dan pelampung tidak seharusnya dipandang sebagai simbol kegagalan. Keduanya adalah lambang kebijaksanaan. Setiap pelaut yang bijak selalu menyiapkan langkah darurat, bukan karena berharap bencana datang, tetapi karena memahami bahwa keselamatan manusia harus selalu menjadi prioritas.
Begitu pula dalam kehidupan berbangsa.
Ketika berbagai persoalan telah merambah banyak sisi kehidupan politik, hukum, ekonomi, pendidikan, birokrasi, hingga moral publik mungkin sudah saatnya kita tidak hanya sibuk menutup gejala, tetapi mulai berani memperbaiki penyebabnya.
Seperti seorang dokter yang memutuskan melakukan operasi demi menyelamatkan pasien, terkadang perubahan memang terasa menyakitkan. Namun rasa sakit itu bukanlah tujuan. Tujuannya adalah menghadirkan harapan baru agar kehidupan dapat terus berjalan dengan lebih sehat.
Demikian pula bangsa ini.
Perubahan bukan berarti menghancurkan apa yang telah dibangun. Perubahan adalah keberanian memperbaiki apa yang tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya. Ia lahir dari rasa cinta, bukan dari kebencian. Dari kepedulian, bukan dari kemarahan.
Keberanian yang kita perlukan hari ini bukan hanya keberanian memilih pemimpin yang baik, tetapi juga keberanian membangun sistem yang lebih adil. Sistem yang mampu membatasi kekuasaan, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, mengelola kekayaan negeri untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, menghadirkan pendidikan yang memerdekakan cara berpikir, dan memastikan bahwa negara benar-benar hadir sebagai pelayan masyarakat.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat seberapa megah kapal yang pernah kita banggakan. Sejarah akan mengingat bagaimana kita bersikap ketika kapal itu mulai retak.
Apakah kita memilih berpura-pura semuanya baik-baik saja?
Ataukah kita memilih bergotong royong memperbaikinya sebelum semuanya terlambat?
Sebab sebuah bangsa tidak pernah semata-mata diukur dari bangunan, gedung, atau simbol-simbol kebesarannya. Bangsa hidup karena manusia-manusia yang ada di dalamnya—karena kepedulian, kejujuran, keberanian, dan harapan yang mereka rawat bersama.
Jika suatu hari kita harus membangun bahtera yang lebih kokoh, biarlah ia dibangun dari pengalaman, dari kesediaan belajar atas kesalahan, dan dari semangat untuk tidak mengulang luka yang sama.
Masih ada waktu untuk memilih.
Bukan memilih antara optimisme atau pesimisme, melainkan memilih untuk tetap peduli. Memilih kejujuran daripada penyangkalan. Memilih perbaikan daripada sekadar mempertahankan keadaan.
Sebab selama masih ada keberanian untuk mengakui kenyataan, selama masih ada hati yang mau bergotong royong, dan selama kepentingan manusia tetap ditempatkan di atas kepentingan apa pun, selalu ada harapan bahwa kapal bernama Indonesia akan menemukan arah pelayaran yang lebih baik menuju dermaga yang kita cita-citakan bersama.
Bersama HIPNUSA, Kita maju bersama








