Riset Pasar Bukan Sekadar Pilihan, Tetapi Pondasi Utama Sebelum Memulai Bisnis

Share :

Ilustrasi pelaku UMKM sedang melakukan riset pasar dan menyusun strategi bisnis sebelum mengajukan modal usaha atau pinjaman bank.
Baca Juga :

Oleh: Muhammad Aditya Prabowo

Di tengah semangat pertumbuhan ekonomi masyarakat dan berkembangnya dunia usaha digital, semakin banyak generasi muda yang tertarik membangun usaha sendiri. Fenomena ini tentu menjadi kabar baik bagi masa depan ekonomi bangsa. UMKM tumbuh di berbagai daerah, mulai dari usaha kuliner, fesyen, jasa kreatif, hingga perdagangan berbasis media sosial. Namun di balik semangat tersebut, ada satu persoalan mendasar yang sering diabaikan oleh banyak pelaku usaha pemula, yaitu minimnya pemahaman tentang pentingnya riset pasar sebelum memulai bisnis.

Tidak sedikit pelaku UMKM yang terlalu fokus pada modal usaha, bahkan rela mengajukan pinjaman bank tanpa benar-benar memahami kebutuhan pasar. Banyak yang berpikir bahwa ketika modal sudah tersedia, maka bisnis akan otomatis berjalan dengan baik. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Modal memang penting, tetapi bisnis pada dasarnya bukan hanya soal memiliki uang untuk memulai usaha. Inti dari bisnis adalah kemampuan menjual produk atau jasa kepada pasar yang tepat.

Dalam pandangan saya, fenomena pelaku UMKM yang terjebak dalam utang usaha sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya semangat bekerja, melainkan karena mereka memulai usaha tanpa perencanaan dan riset pasar yang matang. Akibatnya, produk yang dijual tidak sesuai kebutuhan masyarakat, harga tidak kompetitif, atau strategi pemasaran tidak tepat sasaran. Ketika penjualan tidak berjalan sesuai harapan, cicilan pinjaman justru menjadi beban yang semakin berat.

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2026 menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh sebesar 5,61 persen (year on year). Pertumbuhan ini salah satunya didorong oleh konsumsi rumah tangga dan aktivitas perdagangan yang terus meningkat. (Badan Pusat Statistik Indonesia) Namun, di balik pertumbuhan tersebut, tantangan UMKM masih sangat besar, terutama dalam hal daya saing usaha dan kemampuan membaca kebutuhan pasar.

BPS melalui program Sensus Ekonomi 2026 juga menegaskan bahwa UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional sehingga dibutuhkan data usaha yang akurat untuk mendukung kebijakan ekonomi yang tepat sasaran. (Badan Pusat Statistik Kabupaten Kebumen) Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan UMKM tidak hanya bergantung pada bantuan modal, tetapi juga pada kualitas pengelolaan usaha dan pemahaman pasar.

Saat ini kita sering melihat usaha kuliner bermunculan dengan konsep yang hampir sama. Ada yang mengikuti tren minuman viral, makanan kekinian, atau produk yang sedang ramai di media sosial. Namun banyak usaha tersebut hanya bertahan beberapa bulan. Mengapa? Karena mereka sekadar ikut tren tanpa memahami apakah produk tersebut benar-benar dibutuhkan masyarakat sekitar atau hanya ramai sesaat.

Riset pasar sebenarnya adalah langkah sederhana tetapi sangat penting. Riset pasar berarti memahami siapa calon pembeli kita, apa kebutuhan mereka, bagaimana daya beli masyarakat, siapa kompetitor yang sudah ada, dan apa keunggulan yang bisa ditawarkan. Sayangnya, banyak pelaku usaha menganggap riset pasar sebagai sesuatu yang rumit dan hanya dilakukan perusahaan besar. Padahal pelaku UMKM pun bisa melakukan riset sederhana, misalnya dengan mengamati lingkungan sekitar, bertanya kepada calon konsumen, atau melihat kebiasaan pasar melalui media sosial.

Saya pernah melihat sebuah usaha kecil di lingkungan masyarakat yang menjual produk makanan dengan rasa yang sebenarnya cukup baik. Namun usaha tersebut akhirnya tutup karena lokasi penjualannya tidak sesuai dengan target pasar. Produk yang dijual memiliki harga relatif tinggi, sementara mayoritas masyarakat sekitar lebih memilih makanan dengan harga terjangkau. Dari sini terlihat bahwa kualitas produk saja tidak cukup. Bisnis membutuhkan pemahaman pasar yang tepat.

Banyak pelaku usaha juga lupa bahwa pinjaman bank bukanlah keuntungan, melainkan tanggung jawab yang harus dibayar kembali. Ketika pinjaman digunakan tanpa perhitungan yang matang, maka usaha justru berisiko mengalami tekanan finansial sejak awal. Tidak sedikit UMKM yang akhirnya kesulitan berkembang karena sebagian besar keuntungan usaha habis untuk membayar cicilan.

Menurut data yang dipublikasikan dalam berbagai kajian ekonomi tahun 2026, UMKM menyumbang lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja di Indonesia. (republika.id) Angka ini menunjukkan bahwa UMKM memiliki peran besar terhadap stabilitas ekonomi nasional. Namun peran besar tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pengelolaan bisnis agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan.

Menurut saya, mentalitas yang perlu dibangun oleh pengusaha muda hari ini bukan sekadar keberanian memulai bisnis, tetapi juga kesiapan belajar memahami pasar. Jangan sampai semangat membuka usaha lebih besar daripada kesiapan memahami kebutuhan konsumen. Karena dalam dunia bisnis, produk terbaik sekalipun akan sulit berkembang jika tidak memiliki pasar yang jelas.

Di era digital saat ini, sebenarnya peluang melakukan riset pasar jauh lebih mudah dibanding sebelumnya. Media sosial, marketplace, dan teknologi internet memberikan akses informasi yang luas mengenai tren konsumen. Pelaku usaha dapat melihat produk apa yang diminati, bagaimana ulasan pelanggan, hingga strategi promosi kompetitor. Semua itu bisa menjadi bahan evaluasi sebelum memulai usaha.

Selain itu, penting juga bagi pelaku UMKM untuk membangun pola pikir bahwa bisnis bukan sekadar tentang produksi, tetapi tentang penjualan. Banyak orang terlalu fokus membuat produk, tetapi lupa memikirkan bagaimana cara menjualnya. Akibatnya, barang menumpuk, modal terhenti, dan usaha tidak berputar dengan sehat.

Dalam dunia usaha, penjualan adalah napas utama bisnis. Sebagus apa pun produk yang dibuat, jika tidak mampu terjual maka bisnis tidak akan bertahan lama. Karena itu, kemampuan memahami konsumen, membangun komunikasi pemasaran, dan menciptakan nilai produk menjadi hal yang sangat penting.

Saya percaya bahwa generasi muda Indonesia memiliki kreativitas dan semangat inovasi yang luar biasa. Namun kreativitas tersebut harus diimbangi dengan literasi bisnis yang baik. Kita membutuhkan lebih banyak pengusaha muda yang tidak hanya berani memulai usaha, tetapi juga cerdas membaca pasar dan bijak mengelola keuangan.

Lingkungan organisasi, komunitas usaha, pesantren, dan lembaga pendidikan juga memiliki peran penting dalam membangun kesadaran ini. Edukasi tentang riset pasar, manajemen usaha, dan literasi keuangan harus menjadi bagian dari pembinaan UMKM. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya diajak menjadi pengusaha, tetapi juga dibimbing agar mampu membangun usaha yang sehat dan berkelanjutan.

Dalam perspektif yang lebih luas, UMKM yang kuat akan menjadi fondasi ekonomi bangsa. Namun UMKM yang kuat bukanlah usaha yang sekadar berdiri banyak jumlahnya, melainkan usaha yang mampu bertahan, berkembang, dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Semua itu berawal dari langkah sederhana: memahami pasar sebelum memulai usaha.

Pada akhirnya, bisnis bukan hanya soal keberanian meminjam modal atau mengikuti tren yang sedang ramai. Bisnis adalah tentang memahami kebutuhan manusia dan menghadirkan solusi yang bernilai. Karena itu, sebelum memulai usaha, lakukanlah riset pasar terlebih dahulu. Kenali siapa pembelinya, apa kebutuhannya, dan bagaimana cara menjual produk dengan tepat.

Sebab dalam dunia usaha, modal terbesar bukan hanya uang, tetapi pemahaman yang benar tentang pasar. Dan inti dari bisnis yang sesungguhnya adalah jualan.