Beberapa hari yang lalu, saya menerima sebuah pesan dari seorang ibu rumah tangga setelah membaca artikel yang saya tulis berjudul “Ketika Rencana Berubah, Mungkin Itu Cara Allah Menumbuhkan Kita”. Pesannya sederhana, tetapi membuat saya merenung cukup lama. Saya yakin, apa yang beliau rasakan juga sedang dirasakan oleh banyak orang di luar sana.
Beliau bertanya, “Pak Aditya, setiap perjalanan manusia memang seharusnya menuju ke arah yang lebih baik. Tetapi kita tidak bisa selamanya seperti itu. Kadang bosan, lelah, bahkan tidak mengerti harus berbuat apa lagi. Bagaimana caranya mempertahankan kebaikan? Karena menjaganya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selain bersandar kepada Allah tentunya.”
Saya menjawab singkat, “Ikhlas, Bu.”
Tidak lama kemudian, beliau membalas lagi, “Pak, ada lagi selain ini? Terus terang saya kurang sreg kalau hanya ikhlas.”
Saya tersenyum membaca balasan itu. Saya tidak merasa jawaban saya ditolak. Justru saya melihat ada sebuah kegelisahan yang sangat manusiawi. Ketika hati sedang lelah, satu kata memang sering kali belum cukup untuk menjadi penawar. Yang dibutuhkan bukan sekadar jawaban, melainkan alasan mengapa kita harus tetap bertahan.
Mengapa Saya Menjawab “Ikhlas”?
Banyak orang memahami ikhlas sebagai sikap pasrah. Padahal, menurut saya, ikhlas bukan berarti berhenti berusaha atau menerima keadaan tanpa ikhtiar.
Ikhlas adalah ketika kita tetap memberikan yang terbaik, tetapi tidak memaksa Allah untuk selalu memberikan hasil sesuai dengan keinginan kita. Kita tetap bekerja, tetap berdoa, tetap memperbaiki diri, tetapi hati kita tidak lagi menggantungkan kebahagiaan pada penilaian manusia.
Sering kali yang membuat kita lelah bukan pekerjaannya, bukan perjuangannya, melainkan harapan yang kita gantungkan kepada manusia.
Kita ingin dihargai.
Kita ingin dimengerti.
Kita ingin pengorbanan kita dibalas.
Ketika semua itu tidak terjadi, hati mulai kecewa. Dari kecewa lahirlah lelah. Dari lelah, muncul keinginan untuk berhenti.
Di sinilah ikhlas menjadi sangat penting. Ikhlas mengembalikan arah hati kita. Dari yang semula mencari pengakuan manusia, kembali mencari ridha Allah.
Pelajaran yang Saya Dapatkan dari Kehidupan
Selama berinteraksi dengan banyak orang, terutama para pelaku usaha, saya belajar bahwa ujian hidup tidak pernah memilih siapa korbannya.
Saya pernah bertemu seorang pengusaha yang kehilangan hampir seluruh usahanya. Secara materi, ia benar-benar jatuh. Namun wajahnya tetap tenang.
Saya bertanya, “Apa yang membuat Bapak masih mampu tersenyum?”
Beliau menjawab, “Pak Aditya, usaha saya memang hilang. Tapi saya tidak mau kehilangan hati saya.”
Kalimat itu sangat sederhana, tetapi mengandung pelajaran yang luar biasa.
Sebaliknya, saya juga pernah bertemu orang yang usahanya berkembang, hartanya cukup, tetapi hidupnya dipenuhi keluhan. Dari situ saya memahami bahwa ketenangan hidup tidak selalu ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh luasnya hati dalam menerima ketetapan Allah.
Selain Ikhlas, Apa Lagi yang Harus Kita Jaga?
Setelah saya renungkan, saya memahami mengapa Ibu tadi berkata, “Saya kurang sreg kalau hanya ikhlas.”
Memang benar. Ikhlas adalah fondasi, tetapi ada beberapa hal lain yang harus kita rawat agar tidak mudah kehilangan semangat.
Pertama, luruskan kembali niat.
Kalau kita berbuat baik karena ingin dipuji, kita akan mudah kecewa.
Kalau kita bekerja hanya untuk mengejar hasil, kita akan mudah putus asa ketika hasil itu belum datang.
Namun ketika semua kita niatkan sebagai ibadah, sekecil apa pun kebaikan akan terasa bernilai.
Kedua, izinkan diri kita beristirahat.
Banyak orang merasa harus selalu kuat. Padahal, tubuh punya batas dan hati juga membutuhkan jeda.
Beristirahat bukan berarti menyerah.
Beristirahat adalah cara kita mengumpulkan tenaga agar bisa kembali melangkah dengan lebih baik.
Bahkan kendaraan yang paling tangguh pun harus berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar.
Ketiga, berhentilah membandingkan hidup dengan orang lain.
Di zaman media sosial, kita terlalu sering melihat senyum orang lain, tetapi tidak pernah melihat perjuangan di balik senyum itu.
Setiap orang memiliki ujian yang berbeda.
Allah tidak meminta kita menjadi seperti orang lain.
Allah hanya meminta kita menjadi lebih baik daripada diri kita yang kemarin.
Keempat, syukuri setiap langkah kecil.
Kadang kita terlalu sibuk melihat tujuan yang masih jauh, sampai lupa bahwa kita sudah berjalan cukup jauh.
Padahal, setiap langkah kecil menuju kebaikan adalah nikmat yang patut disyukuri.
Jangan menunggu berhasil untuk bersyukur.
Bersyukurlah, maka Allah akan memberi kekuatan untuk terus melangkah.
Jangan Takut Merasa Lelah
Saya ingin mengatakan kepada Ibu yang bertanya, dan kepada siapa pun yang sedang membaca tulisan ini.
Kalau hari ini merasa lelah, itu wajar.
Kalau hari ini merasa bosan, itu juga manusiawi.
Jangan menyalahkan diri sendiri hanya karena sesekali kehilangan semangat.
Yang harus kita jaga bukan agar tidak pernah lelah, tetapi agar rasa lelah itu tidak membuat kita berhenti menjadi pribadi yang baik.
Karena sesungguhnya, mempertahankan kebaikan memang jauh lebih sulit daripada memulainya.
Namun justru di situlah letak nilai perjuangan kita di hadapan Allah.
Penutup
Saya selalu meyakini satu hal.
Hidup bukan tentang siapa yang tidak pernah jatuh atau tidak pernah lelah. Hidup adalah tentang siapa yang setiap kali jatuh, masih memiliki keberanian untuk bangkit, memperbaiki niat, lalu kembali melangkah.
Mungkin hari ini langkah kita lebih pelan.
Mungkin hari ini doa kita belum dijawab seperti yang kita harapkan.
Namun selama kita masih percaya kepada Allah, masih mau berikhtiar, dan masih menjaga hati agar tetap hidup dalam harapan, saya yakin tidak ada perjuangan yang sia-sia.
Tetaplah menjadi orang baik.
Bukan karena dunia selalu membalas kebaikan kita, tetapi karena Allah tidak pernah menyia-nyiakan setiap amal yang dilakukan dengan hati yang tulus.
Semoga Allah SWT menguatkan hati kita, melapangkan dada kita, dan menjaga langkah kita agar tetap istiqamah dalam kebaikan.
Salam hormat,
Muhammad Aditya Prabowo
|Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nusantara (HIPNUSA)









