Sukses Tidak Bisa Diwakilkan: Perjalanan Roso Saya ke Puncak Lawu

Share :

Ngaji Roso
Baca Juga :

Oleh : Muhammad Aditya Prabowo

Tahun 2020 adalah tahun yang tidak akan pernah saya lupakan. Saat pandemi Covid-19 mulai menyebar dan dunia seolah berhenti bergerak, justru di situlah langkah batin saya dimulai. Dalam sunyi, rasa takut, dan ketidakpastian, saya membuka sebuah padepokan kecil bernama Indraprasta. Padepokan ini lahir bukan untuk kebesaran nama, melainkan sebagai ruang ngaji roso tempat belajar memahami rasa, menyelaraskan hati, dan menjaga napas budaya kejawen agar tetap hidup.

Dari padepokan itulah sebuah mimpi muncul. Sebuah niat yang sederhana tapi terasa berat: membawa baju kebesaran Padepokan Indraprasta ke puncak Gunung Lawu. Jalur yang saya pilih bukan jalur biasa bagi pemula kami mendaki lewat Cemoro Kandang. Jalur ini dikenal panjang, terjal, dan sunyi. Namun justru di sanalah saya ingin belajar tentang keteguhan dan kejujuran pada diri sendiri.

Tanpa persiapan matang dan tanpa banyak perhitungan, saya berangkat mendaki bersama tiga orang saudara seperjalanan. Semangat kami besar, mungkin terlalu besar. Dari Cemoro Kandang kami melangkah dengan keyakinan penuh. Sampai di pos pertama, tubuh mulai memberi tanda. Perut kram, otot kaki menegang menopang berat badan saya. Namun saya memilih terus melangkah, menahan rasa, mengabaikan sinyal tubuh.

Memasuki pos kedua, cobaan datang bertubi-tubi. Kram semakin menjadi, napas terasa sesak, badan panas hingga jaket harus saya lepaskan. Di titik itu saya mulai sadar, kami terlalu percaya diri. Kami percaya cerita bahwa di setiap pos ada yang berjualan, sehingga bekal air kami hanya 600 ml untuk bertiga, ditemani permen jahe. Ketika air habis, barulah kesadaran pahit datang antara bodoh atau terlalu percaya omongan.

Dalam kehausan yang memuncak di jalur Cemoro Kandang yang panjang dan melelahkan, saya mengambil keputusan nekat. Di bawah sebuah pohon besar, ada genangan air di antara akar. Tanpa berpikir panjang, air itu saya tampung ke botol dan langsung saya minum. Saat itu saya tidak lagi memikirkan sehat atau tidak. Yang ada hanya satu: bertahan dan terus berjalan.

Waktu terus bergerak. Menjelang pos tiga, sekitar pukul lima sore, kami sadar telah berjalan hampir delapan jam. Jalur Cemoro Kandang semakin terjal, perut kosong, tenaga nyaris habis. Saya bertanya pada teman tentang daun yang bisa dimakan, seperti yang sering terlihat di televisi. Ia menyebut pucuk muda daun cantigi. Tanpa ragu, saya petik dan kunyah. Rasanya pahit luar biasa. Air mata jatuh tanpa bisa saya tahan. Dari mulut saya keluar doa yang sangat lirih dan pasrah,
“Duh Gusti, nyuwun pangestunipun.”

Pukul tujuh malam kami tiba di pos empat. Dingin khas Lawu menusuk hingga ke tulang. Saya memutuskan untuk berhenti dan bermalam. Malam itu saya tidur dengan tubuh lelah setelah menaklukkan jalur Cemoro Kandang, namun hati justru terasa lebih tenang seolah ada kekuatan yang menjaga dan menyertai.

Pagi hari, dengan kaki yang kaku dan kuku yang terasa perih bahkan ada yang terlepas, saya melanjutkan perjalanan menuju puncak. Setiap langkah terasa berat. Saya berjalan pelan, berhenti, lalu melangkah lagi. Tidak ada ambisi, tidak ada target waktu. Hanya satu tekad: maju, meski perlahan.

Dan akhirnya, saya sampai di puncak. Saat kaki saya benar-benar menginjak puncak Lawu, tangis saya pecah. Haru, syukur, lelah, dan bahagia bercampur menjadi satu. Dengan tangan gemetar, saya bentangkan baju kebesaran Padepokan Indraprasta. Di sanalah saya benar-benar mengerti, bahwa mimpi tidak akan pernah datang sendiri ia harus dijemput, sejauh dan seberat apa pun jalurnya.

Saat turun kembali ke pos empat melalui Cemoro Kandang, keajaiban terjadi. Kaki yang tadi kaku mendadak terasa ringan. Langkah menjadi lancar, jarak terasa singkat. Gunung seolah melepas kami dengan restu. Di pos empat, sebuah kalimat lahir dari dalam hati saya dan tertanam kuat hingga hari ini:
“Sukses tidak bisa diwakilkan. Sukses harus dijemput sendiri.”

Malam kedua menjadi malam pembelajaran. Saya menyiapkan bekal dengan sungguh-sungguh: mi goreng, telur, nasi, wafer, air mineral, Pocari, dan teh panas. Pagi harinya, kami berpamitan kepada penjaga pos dan mulai turun. Anehnya, bekal makanan hampir tidak tersentuh hanya teh yang kami minum. Perjalanan turun hanya memakan waktu sekitar enam jam, tanpa hambatan berarti.

Itulah pendakian gunung pertama saya, lewat jalur Cemoro Kandang. Namun lebih dari sekadar mendaki, perjalanan ini adalah pendakian batin. Saya belajar bahwa tubuh bisa menyerah, logika bisa salah, tetapi hati jika sudah niat dan pasrah akan selalu menemukan jalan.

Bagi saya, Gunung Lawu bukan hanya puncak. Ia adalah guru. Ia mengajarkan bahwa hidup, seperti pendakian, tidak bisa diwakilkan. Setiap orang harus melangkah sendiri, menanggung lelahnya sendiri, dan menjemput suksesnya dengan hati yang jujur.