Sebagai Ketua Umum HIPNUSA, saya memandang bahwa membangun organisasi bukan sekadar mengumpulkan orang, menyusun program, atau membentuk kepengurusan. Tantangan sesungguhnya adalah membangun kesadaran bahwa organisasi tidak akan berkembang hanya karena banyak orang bergabung, tetapi karena ada kemauan untuk bergerak dan berkontribusi bersama.
Banyak orang bergabung dengan organisasi karena tertarik melihat aktivitasnya, ajakan teman, atau peluang yang ditawarkan. Itu hal yang wajar. Namun, kita perlu memahami bahwa apa yang terlihat dari luar belum tentu sesuai dengan kenyataan di dalamnya. Organisasi memiliki proses, tantangan, perbedaan pendapat, dan pekerjaan yang membutuhkan kesabaran.
Persoalannya muncul ketika harapan tidak sesuai kenyataan. Bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun, seseorang tetap berada di dalam organisasi, tetapi hanya menunggu perubahan tanpa berusaha mengambil bagian.
Kita ingin organisasi maju, tetapi apakah kita sudah ikut memajukannya?
Belajar dari Rumah yang Bocor
Bayangkan sebuah rumah yang dihuni enam kepala keluarga. Ketika gentingnya bocor, mereka memilih menampung air dengan ember setiap kali hujan. Mereka enggan memperbaikinya karena biaya dianggap mahal.
Hujan terus datang, plafon rusak, dan kayu penyangga mulai rapuh. Padahal, jika sejak awal mereka duduk bersama dan mencari solusi sesuai kemampuan masing-masing, kerusakan yang lebih besar mungkin dapat dicegah.
Begitulah organisasi. Kita tidak bisa terus-menerus mengeluhkan kekurangan, sementara upaya memperbaikinya selalu ditunggu dari orang lain.
Ada yang bisa menyumbangkan pemikiran, tenaga, waktu, jaringan, keahlian, atau dukungan sesuai kemampuannya. Tidak harus sama besar, tetapi harus ada kemauan untuk mengambil peran.
Jangan hanya menjadi penghuni organisasi yang menikmati manfaatnya. Jadilah bagian dari orang-orang yang ikut memperbaikinya.
Organisasi Adalah Tempat Belajar Dewasa
Bagi saya, organisasi adalah ruang belajar untuk membangun kedewasaan, kepemimpinan, tanggung jawab, dan kebersamaan.
Kritik tetap diperlukan. Perbedaan pendapat harus dihargai. Pengurus pun wajib terbuka terhadap evaluasi dan bertanggung jawab atas amanahnya. Namun, akan jauh lebih bermanfaat jika kritik disertai gagasan dan keinginan untuk mencari solusi.
Sebagai Ketua Umum, saya menyadari bahwa pemimpin memiliki tanggung jawab memberikan arah dan membangun tata kelola yang baik. Tetapi, organisasi bukan pekerjaan satu orang. Tidak semua persoalan bisa diserahkan kepada ketua umum atau segelintir pengurus.
Saya tidak menuntut semua anggota selalu aktif atau memberikan kontribusi yang sama. Setiap orang memiliki kesibukan dan keterbatasan. Saya hanya berharap, ketika kita memilih menjadi bagian dari organisasi, kita juga memiliki kesadaran untuk berkontribusi sesuai kemampuan dan tanggung jawab masing-masing.
Jika kita menengok perjuangan para pahlawan, kemerdekaan tidak diraih hanya dengan harapan dan penantian. Mereka menyatukan kekuatan, menyusun strategi, dan mengambil peran demi tujuan yang lebih besar.
Semangat itulah yang perlu kita teladani: jangan hanya berharap pada perubahan, tetapi bersedia menjadi bagian dari perjuangan mewujudkannya.
Pesan Saya untuk HIPNUSA
Saya ingin HIPNUSA menjadi organisasi yang tumbuh melalui semangat gotong royong, bukan sekadar ramai oleh anggota. Kita perlu membangun budaya berani menyampaikan pendapat, terbuka terhadap evaluasi, dan bersedia bekerja sama mencari jalan keluar.
Jika ada program yang belum berjalan, mari kita evaluasi. Jika ada kekurangan, mari kita perbaiki. Jika ada gagasan yang baik, mari kita wujudkan bersama.
Saya pun menyadari bahwa kepemimpinan tidak luput dari kekurangan. Karena itu, kritik dan masukan tetap diperlukan. Namun, mari kita tempatkan semuanya dalam semangat membangun, bukan sekadar menunggu atau menyalahkan.
Saya percaya, HIPNUSA akan menjadi kuat bukan karena satu orang mampu melakukan segalanya, melainkan karena semakin banyak orang bersedia menjalankan bagiannya.
Pada akhirnya, organisasi bukan milik satu orang. Organisasi adalah amanah bersama yang perlu dijaga dan dikembangkan bersama.
Mari kita berhenti hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari organisasi?” dan mulai bertanya, “Apa yang bisa saya berikan agar organisasi ini menjadi lebih baik?”
Sebab, perubahan tidak cukup hanya ditunggu. Perubahan harus diusahakan bersama.
Muhammad Aditya Prabowo
Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nusantara (HIPNUSA)








