Oleh Muhammad Aditya Prabowo
Pada tulisan sebelumnya saya mengangkat tema “Lahir Miskin Bukan Takdir, Mati Tanpa Perjuangan Adalah Pilihan.” Banyak pembaca memberikan tanggapan yang beragam. Sebagian merasa tersadarkan, sebagian lainnya mengajak berdiskusi tentang makna perjuangan dalam kehidupan. Dari berbagai tanggapan tersebut, saya melihat ada satu hal yang perlu kita renungkan bersama, yaitu tentang bagaimana kita memaknai rasa syukur. Tidak sedikit orang yang memahami syukur sebagai sikap menerima keadaan apa adanya hingga kehilangan semangat untuk memperbaiki kehidupan. Padahal, syukur yang diajarkan dalam agama bukanlah sikap pasif, melainkan energi yang mendorong manusia untuk terus berikhtiar.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai keluarga yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi penghasilannya masih terbatas. Masih ada ayah yang setiap bulan harus memikirkan cicilan kendaraan, biaya kontrakan, kebutuhan dapur, serta biaya pendidikan anak-anak yang terus meningkat. Di sisi lain, seorang ibu berusaha mengatur keuangan rumah tangga dengan penuh kesabaran agar semua kebutuhan keluarga tetap terpenuhi meskipun serba terbatas. Kondisi seperti ini bukanlah sesuatu yang memalukan. Justru di balik keterbatasan itu terdapat perjuangan luar biasa yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain.
Yang patut menjadi bahan introspeksi bukanlah keadaan ekonomi seseorang, melainkan ketika keterbatasan itu dijadikan alasan untuk berhenti belajar, berhenti bekerja lebih baik, dan berhenti mencari peluang. Ada kalanya seseorang berkata, “Saya sudah bersyukur dengan keadaan ini,” padahal kalimat tersebut diucapkan bukan karena hati yang lapang, melainkan karena rasa takut menghadapi perubahan. Akibatnya, kehidupan berjalan tanpa arah yang lebih baik. Tahun demi tahun berlalu, tetapi kondisi ekonomi keluarga tidak mengalami perubahan karena tidak ada keberanian untuk mengambil langkah baru.
Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menyerah kepada keadaan. Syukur dan ikhtiar adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Bersyukur berarti menerima nikmat Allah dengan hati yang lapang, sementara ikhtiar adalah bentuk tanggung jawab manusia untuk memanfaatkan nikmat tersebut sebaik mungkin.
Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Qur’an).
Ayat ini memberikan pelajaran bahwa perubahan hidup tidak akan datang hanya dengan menunggu. Perubahan menuntut adanya usaha, ilmu, kerja keras, serta kesungguhan dalam memperbaiki diri.
Rasulullah ﷺ juga memberikan teladan tentang pentingnya usaha sebelum bertawakal. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda, “Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah kepada Allah.” Pesan ini mengandung makna yang sangat dalam. Tawakal bukan berarti menyerahkan segala sesuatu kepada Allah tanpa usaha, tetapi melakukan ikhtiar secara maksimal terlebih dahulu, kemudian menyerahkan hasilnya kepada kehendak-Nya. Dengan demikian, doa dan kerja keras merupakan dua hal yang berjalan beriringan, bukan saling menggantikan.
Realitas kehidupan menunjukkan bahwa banyak keluarga sebenarnya memiliki potensi untuk berkembang, tetapi sering kali terhambat oleh pola pikir yang merasa cukup tanpa adanya upaya meningkatkan kualitas diri. Padahal, dunia terus berubah. Keterampilan baru terus dibutuhkan, peluang usaha terus bermunculan, dan teknologi membuka banyak kesempatan bagi siapa saja yang mau belajar. Orang yang mampu bertahan bukan selalu mereka yang memiliki modal terbesar, melainkan mereka yang memiliki kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi.
Kita juga perlu menyadari bahwa perjuangan yang dilakukan hari ini bukan semata-mata untuk diri sendiri. Setiap langkah yang kita ambil akan menentukan masa depan keluarga. Anak-anak mungkin tidak akan mengingat seberapa besar penghasilan orang tuanya atau seberapa sederhana rumah yang pernah mereka tempati. Namun, mereka akan selalu mengingat bagaimana ayah dan ibunya bekerja dengan jujur, tidak mudah menyerah, serta terus berusaha memberikan kehidupan yang lebih baik. Keteladanan seperti inilah yang menjadi warisan paling berharga bagi generasi berikutnya.
Allah Swt. kembali menguatkan hati setiap hamba-Nya melalui firman-Nya,
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Qur’an).
Janji Allah tersebut memberikan harapan bahwa setiap kesulitan selalu disertai peluang untuk bangkit. Akan tetapi, peluang itu tidak akan pernah berarti apabila manusia memilih diam dan hanya menunggu keadaan berubah dengan sendirinya.
Sudah saatnya kita meluruskan kembali pemahaman tentang syukur. Syukur bukanlah alasan untuk berhenti berjuang, melainkan kekuatan yang membuat seseorang tetap optimis meskipun sedang menghadapi keterbatasan. Bersyukur berarti memanfaatkan setiap nikmat, sekecil apa pun, sebagai bekal untuk terus belajar, bekerja, berusaha, dan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga serta masyarakat. Dengan cara itulah rasa syukur benar-benar diwujudkan dalam tindakan, bukan sekadar diucapkan dalam kata-kata.
Pada akhirnya, kehidupan yang lebih baik bukan hanya lahir dari doa yang dipanjatkan dengan penuh harap, tetapi juga dari keberanian untuk mengambil langkah, menghadapi risiko, dan bekerja dengan penuh kejujuran. Sebab, harapan tanpa ikhtiar hanya akan menjadi angan-angan. Sebaliknya, ikhtiar yang disertai doa dan rasa syukur akan melahirkan keteguhan hati untuk terus melangkah menuju masa depan yang lebih bermartabat.









