Ketika Usahamu Jatuh, Siapa yang Akan Berdiri di Sampingmu?

Share :

Ilustrasi pengusaha HIPNUSA yang saling mendukung dan berkolaborasi membangun relasi untuk mencapai kesuksesan bersama.
Baca Juga :

Catatan Ketua Umum HIPNUSA untuk Seluruh Anggota

Ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada seluruh sahabat HIPNUSA. Dalam berorganisasi maupun menjalankan usaha, kita sering kali baru menyadari pentingnya orang lain setelah kita menghadapi masalah. Ketika usaha sedang bagus, kita merasa semuanya bisa kita lakukan sendiri. Kita sibuk mengejar omzet, mengurus pekerjaan, dan menyelesaikan urusan masing-masing. Namun ketika usaha mulai mengalami masalah, ketika membutuhkan informasi, membutuhkan pasar, membutuhkan partner, atau membutuhkan solusi, barulah kita mencari relasi.

Pertanyaannya sederhana: ketika usaha kita jatuh, siapa yang akan berdiri di samping kita?

Saya menyampaikan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Justru saya ingin kita semua melakukan introspeksi. Menjadi pengusaha bukan hanya soal memiliki modal dan menjalankan usaha. Kita juga harus memiliki kemampuan membangun hubungan dengan orang lain. Relasi, pengalaman, informasi, dan ilmu merupakan bagian yang tidak kalah penting dari modal uang.

Karena itu, jangan sampai kita baru membangun hubungan ketika sedang membutuhkan bantuan. Relasi membutuhkan proses. Kita harus mengenal orang, menjaga komunikasi, membangun kepercayaan, dan menunjukkan bahwa kita juga bisa memberikan manfaat kepada orang lain.

Saya melihat dalam kehidupan organisasi masih ada sebagian dari kita yang memilih untuk menunggu. Menunggu melihat siapa yang bergerak, melihat programnya seperti apa, atau melihat apa yang akan didapatkan dari organisasi. Ada juga yang mengikuti organisasi hanya sekadar mencoba dan hadir sesekali, tetapi belum benar-benar menjadikan organisasi sebagai tempat untuk belajar dan membangun jaringan.

Menurut saya, cara berpikir seperti ini perlu kita ubah.

Ketika kita masuk ke dalam sebuah organisasi, jangan selalu berpikir tentang apa yang akan kita dapatkan. Cobalah berpikir tentang apa yang bisa kita berikan. Kita memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang mempunyai pengalaman, ada yang mempunyai jaringan, ada yang mempunyai pengetahuan, ada yang mempunyai akses pasar, dan ada pula yang memiliki pengalaman menghadapi berbagai persoalan usaha. Semua itu bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi anggota lainnya.

Inilah salah satu alasan mengapa HIPNUSA terus berusaha menyediakan ruang bagi anggota untuk bertemu dan berkomunikasi. Salah satunya melalui kegiatan Temu Kangen yang dilaksanakan setiap dua pekan sekali dan difasilitasi oleh DPP melalui Zoom.

Mungkin bagi sebagian orang kegiatan tersebut terlihat sederhana. Kita hanya bertemu melalui Zoom, saling menyapa, berbicara, dan berbagi pengalaman. Tetapi jangan melihat sebuah pertemuan hanya dari bentuk kegiatannya. Lihat manfaat yang mungkin muncul dari pertemuan tersebut.

Ada anggota yang sedang mengalami persoalan dalam usahanya. Ada yang sedang mencari informasi. Ada yang membutuhkan partner. Ada yang sedang mencari pasar. Ada pula yang mungkin hanya membutuhkan tempat untuk berdiskusi dengan orang yang memahami persoalannya. Dari pertemuan seperti inilah kita bisa saling membantu.

Saya percaya, banyak persoalan usaha sebenarnya bisa menjadi lebih ringan apabila kita mau berbicara dan bertukar pengalaman. Kadang kita merasa masalah yang kita hadapi sangat berat karena kita menghadapinya sendirian. Padahal, mungkin ada anggota lain yang pernah mengalami hal yang sama dan sudah menemukan jalan keluarnya.

Karena itu saya berharap Temu Kangen HIPNUSA jangan dianggap hanya sebagai kegiatan rutin organisasi. Jadikan itu sebagai kesempatan untuk mengenal anggota lain, membangun komunikasi, mendapatkan informasi, dan memperluas jaringan.

Dalam dunia usaha, kita juga harus mulai mengubah cara berpikir tentang modal. Modal uang memang penting, tetapi modal uang saja tidak cukup. Banyak usaha yang memiliki modal cukup, bahkan besar, tetapi akhirnya tidak berjalan dengan baik karena pemiliknya tidak mempunyai pengetahuan yang cukup, tidak memahami pasar, tidak mampu mengelola usaha, atau tidak memiliki jaringan yang mendukung.

Sebaliknya, ada orang yang memulai usaha dengan kemampuan yang terbatas, tetapi mau belajar, mau bertanya, mau membangun jaringan, dan mau mendengarkan pengalaman orang lain. Dari proses tersebut, usahanya perlahan bisa berkembang.

Yang saya khawatirkan adalah ketika seseorang baru mau mencari ilmu setelah usahanya gagal. Baru mencari mentor setelah masalah muncul. Baru mencari relasi ketika membutuhkan bantuan. Baru bertanya ketika hutang sudah menumpuk.

Menurut saya, belajar tidak boleh menunggu kita gagal. Membangun relasi juga tidak boleh menunggu kita membutuhkan bantuan.

Kalau kita memang ingin menjadi pengusaha yang lebih baik, maka kita harus terus belajar. Kita harus mau menerima masukan, membaca situasi, mencari informasi, berdiskusi dengan orang yang lebih berpengalaman, dan membangun hubungan dengan sebanyak mungkin orang yang memiliki nilai positif bagi perkembangan usaha kita.

Saya juga memahami bahwa setiap anggota mempunyai kesibukan masing-masing. Ada pekerjaan, ada keluarga, ada usaha yang harus dijalankan. Tetapi jangan sampai kesibukan menjadi alasan untuk tidak pernah membangun hubungan dengan orang lain.

Kita sering mengatakan tidak punya waktu ketika organisasi mengadakan kegiatan. Tetapi ketika usaha mengalami masalah, waktu kita tiba-tiba ada untuk mencari relasi dan meminta bantuan. Ini yang perlu kita pikirkan bersama.

Relasi tidak dibangun pada saat kita sedang membutuhkan. Relasi dibangun jauh sebelumnya.

Begitu juga dengan organisasi. Jangan hadir hanya ketika ada kepentingan. Kalau kita ingin organisasi memberikan manfaat kepada kita, maka kita juga harus ikut memberikan manfaat kepada organisasi. Kita tidak bisa berharap organisasi menjadi besar kalau kita sendiri tidak mau ikut mengambil bagian di dalamnya.

Saya juga ingin menyampaikan mengenai kritik. Saya tidak pernah mengatakan bahwa anggota tidak boleh mengkritik organisasi. Kritik sangat diperlukan. Saya justru berharap anggota berani menyampaikan pendapat ketika melihat sesuatu yang perlu diperbaiki.

Tetapi akan lebih baik kalau kritik tersebut disertai dengan pemikiran dan solusi. Kalau ada program yang dianggap kurang baik, mari kita diskusikan bagaimana memperbaikinya. Kalau ada kegiatan yang dianggap kurang maksimal, mari kita ikut membantu agar kegiatan berikutnya menjadi lebih baik.

Jangan sampai kita tidak ikut dalam proses, tidak membantu ketika kegiatan berjalan, tetapi setelah selesai kita hanya mencari kekurangannya. Kalau kita ingin HIPNUSA menjadi lebih baik, maka kita semua harus mempunyai rasa memiliki.

Saya sebagai Ketua Umum tentu tidak mungkin membangun HIPNUSA seorang diri. Pengurus juga tidak mungkin menjalankan semuanya sendiri. Organisasi ini akan berkembang kalau seluruh anggota mau bergerak sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama. Yang memiliki kemampuan di bidang tertentu silakan memberikan kontribusinya di bidang tersebut. Yang mempunyai jaringan bisa membantu membuka akses. Yang mempunyai pengalaman bisa berbagi dengan anggota lain. Yang memiliki pengetahuan bisa memberikan edukasi. Yang memiliki peluang usaha bisa membuka kesempatan kolaborasi.

Dengan cara seperti itulah sebuah organisasi bisa menjadi kuat.

Saya ingin HIPNUSA menjadi tempat di mana para pengusaha tidak merasa berjalan sendirian. Ketika ada anggota yang mempunyai masalah, ada tempat untuk berdiskusi. Ketika ada yang membutuhkan informasi, ada orang yang bisa membantu. Ketika ada peluang, kita bisa membicarakannya bersama. Ketika ada anggota yang mempunyai kemampuan tertentu, kemampuan tersebut bisa memberikan manfaat bagi anggota lainnya.

Inilah yang saya maksud dengan membangun organisasi.

Bukan hanya membuat kegiatan, bukan hanya membuat struktur kepengurusan, dan bukan hanya mengumpulkan anggota sebanyak-banyaknya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita membangun hubungan yang sehat dan produktif di antara anggota.

Saya tidak ingin beberapa tahun ke depan ada anggota HIPNUSA yang mengatakan, “Seandainya dulu saya lebih aktif,” atau “Seandainya dulu saya mau membangun relasi.” Kesempatan yang ada sekarang sebaiknya kita manfaatkan.

Mari kita mulai dari hal yang sederhana. Hadir ketika ada kegiatan. Kenalilah anggota lain. Ikuti sharing. Bertukar informasi. Berikan masukan. Bantu ketika ada kegiatan. Dan kalau ada kesempatan untuk berkolaborasi, jangan langsung berpikir tentang kepentingan pribadi.

Saya percaya, ketika kita memberikan manfaat kepada orang lain, pada waktunya manfaat itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang mungkin tidak pernah kita bayangkan.

Sebagai Ketua Umum HIPNUSA, saya mengajak seluruh anggota untuk mengubah mindset dalam berorganisasi. Jangan hanya datang untuk melihat apa yang bisa diperoleh. Mari kita datang dengan semangat untuk belajar dan memberikan kontribusi.

Kita semua mempunyai kekurangan dan kelebihan. Justru karena itulah kita membutuhkan satu sama lain. Jangan merasa mampu berjalan sendiri hanya karena hari ini usaha kita sedang baik. Dunia usaha selalu berubah dan tantangan bisa datang kapan saja.

Hari ini mungkin kita membantu orang lain. Besok mungkin kita yang membutuhkan bantuan.

Karena itu, mari kita bangun HIPNUSA dengan semangat kebersamaan, saling menghargai, saling membantu, dan saling membuka peluang.

Saya berharap seluruh sahabat HIPNUSA tidak hanya menjadi anggota secara administratif, tetapi benar-benar merasa menjadi bagian dari keluarga besar ini. Mari kita hadir bukan karena terpaksa, tetapi karena kita memahami bahwa membangun jaringan dan menambah ilmu adalah bagian dari perjalanan kita sebagai pengusaha.

Pada akhirnya, kita tidak pernah tahu siapa yang akan menjadi orang penting dalam perjalanan usaha kita. Bisa jadi orang yang hari ini kita temui dalam sebuah pertemuan sederhana. Bisa jadi anggota yang hari ini kita bantu. Bisa jadi orang yang selama ini kita anggap biasa saja.

Karena itu, jangan menunggu usaha kita bermasalah untuk mulai mencari relasi. Jangan menunggu gagal untuk mulai belajar. Dan jangan menunggu membutuhkan HIPNUSA baru kita mau hadir.

Mari kita bangun semuanya mulai sekarang.

Saya percaya, kalau kita mau menghilangkan ego masing-masing, mau saling belajar, mau saling membantu, dan mau membangun kolaborasi, HIPNUSA akan menjadi organisasi yang jauh lebih kuat dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh anggotanya.

Sendiri kita mungkin bisa berjalan, tetapi bersama kita bisa melangkah lebih jauh.

Mari kita jaga HIPNUSA, kita besarkan bersama, dan kita jadikan organisasi ini sebagai tempat untuk belajar, membangun relasi, menciptakan peluang, dan bertumbuh bersama.

Salam hormat,

Ketua Umum HIPNUSA