Ketika Kuliner dan Properti Duduk Semeja: Ternyata yang Dibangun Bukan Sekadar Bisnis, Melainkan Masa Depan Ekonomi Bangsa

Share :

Ketua Umum HIPNUSA, Aditya, berjabat tangan dan berfoto bersama Kang Mardi, pelaku usaha kuliner, dalam sebuah acara Asosiasi Developer Properti sebagai simbol kolaborasi antara sektor kuliner, UMKM, dan properti untuk memperkuat perekonomian Indonesia.
Baca Juga :

Oleh: Muhammad Aditya Prabowo
|Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nusantara (HIPNUSA).

Di tengah sebuah acara Asosiasi Developer Properti,di hotel Bidakara Jakarta, saya bertemu dengan seorang sahabat lama, Kang Mardi. Beliau dikenal sebagai praktisi di bidang kuliner, sementara saya berkecimpung di dunia properti. Kami berasal dari dua sektor yang tampaknya berbeda, tetapi pertemuan singkat itu justru membuka ruang diskusi yang sangat bermakna. Yang kami bicarakan bukan tentang siapa yang lebih besar atau lebih menguntungkan, melainkan bagaimana dua sektor ini dapat saling menguatkan dalam membangun perekonomian. (20/07/2026).

Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan sederhana.

“Om Mardi, bagaimana usaha kulinernya?” tanya saya.

Dengan senyum yang penuh rasa syukur, beliau menjawab, “Alhamdulillah, Om. Kami fokus menyisir pasar menengah ke bawah. Alhamdulillah, sampai hari ini usaha masih terus berjalan.”

Jawaban itu sederhana, tetapi mengandung pesan yang dalam. Di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah, masih banyak pelaku usaha yang tetap bertahan karena memahami kebutuhan pasar dan melayani masyarakat dengan sepenuh hati.

Tidak lama kemudian, Kang Mardi balik bertanya, “Kalau properti Om Aditya bagaimana?”

Saya pun menjawab dengan apa adanya.

“Properti hari ini tidak bisa dipisahkan dari kekuatan UMKM. Sebagus apa pun pembangunan yang dilakukan, jika pelaku UMKM melemah, maka sektor properti juga akan ikut terdampak. Sebaliknya, ketika UMKM tumbuh, masyarakat memiliki daya beli, lapangan pekerjaan bertambah, aktivitas ekonomi meningkat, dan kebutuhan terhadap hunian maupun kawasan usaha juga ikut berkembang.”

Bagi saya, pembangunan ekonomi bukanlah tentang berdirinya gedung-gedung megah semata. Pembangunan yang sesungguhnya adalah ketika roda ekonomi masyarakat terus berputar. Ketika warung kecil ramai pembeli, usaha kuliner berkembang, pengrajin mendapat pesanan, pedagang memiliki pelanggan tetap, maka di sanalah fondasi ekonomi sedang diperkuat. Dari fondasi itulah sektor-sektor lain, termasuk properti, memperoleh daya hidupnya.

Karena itu saya mengajak Kang Mardi, “Ayo kita berkolaborasi membangun ekonomi. Kita saling terkoneksi dan saling mengisi. Tidak ada sektor usaha yang bisa tumbuh sendirian. Kemajuan akan lebih mudah dicapai ketika setiap pelaku usaha saling mendukung sesuai perannya masing-masing.”

Saya meyakini bahwa kolaborasi adalah kunci. Kuliner menghadirkan aktivitas ekonomi yang hidup di tengah masyarakat. Properti menyediakan ruang untuk bertumbuh dan berkembang. Keduanya bukan pesaing, melainkan mitra yang saling membutuhkan. Ketika satu sektor bergerak maju, sektor lainnya akan ikut merasakan dampak positifnya.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran ekonom peraih Nobel, Paul Romer, yang menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya lahir dari modal, tetapi juga dari kolaborasi, inovasi, dan kemampuan berbagai sektor untuk saling menciptakan nilai tambah. Demikian pula berbagai laporan World Bank dan OECD menunjukkan bahwa penguatan usaha kecil dan menengah menjadi salah satu fondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Di akhir percakapan, kami berjabat tangan dan mengabadikan momen dengan sebuah foto bersama. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya pertemuan biasa. Namun bagi saya, jabat tangan tersebut memiliki makna yang lebih besar. Itu adalah simbol persaudaraan, semangat gotong royong, dan keyakinan bahwa kemajuan bangsa tidak dibangun oleh satu profesi atau satu sektor saja, melainkan oleh mereka yang bersedia berjalan bersama.

Semoga semakin banyak ruang pertemuan yang melahirkan kolaborasi, bukan sekadar percakapan. Sebab ketika pengusaha kuliner, pelaku UMKM, pengembang properti, investor, akademisi, dan pemerintah saling menguatkan, yang sedang kita bangun bukan hanya bisnis yang lebih besar, tetapi juga ekonomi Indonesia yang lebih tangguh, berkeadilan, dan mampu memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

Mari kita tinggalkan ego sektoral dan memperkuat sinergi. Karena masa depan ekonomi Indonesia tidak dibangun oleh satu tangan, melainkan oleh jutaan tangan yang saling bergandengan.