Komunikasi: Teknologi Semakin Canggih, Mengapa Adab Semakin Hilang?

Share :

Ilustrasi seseorang memegang telepon genggam sambil merenungkan pentingnya komunikasi, etika, dan silaturahmi di era digital. Pesan mengajak masyarakat menggunakan teknologi untuk membangun hubungan, menghargai sesama, dan memperkuat persaudaraan.
Baca Juga :

Oleh: Muhammad Aditya Prabowo

Pernahkah kita merenung sejenak, untuk apa sebenarnya kita membeli telepon genggam yang mahal? Mengapa setiap bulan kita rela mengeluarkan uang untuk membeli kuota internet? Apakah hanya untuk melihat media sosial, menonton video, atau sekadar membaca pesan tanpa pernah membalasnya?

Teknologi komunikasi diciptakan bukan sekadar agar manusia dapat saling terhubung, tetapi agar hubungan antarmanusia menjadi lebih dekat, lebih hangat, dan lebih bermakna. Sayangnya, yang kita saksikan hari ini justru sering kali bertolak belakang. Perangkat komunikasi semakin canggih, tetapi kualitas komunikasi antarmanusia justru mengalami kemunduran.

Saya masih teringat bagaimana kehidupan puluhan tahun yang lalu. Ketika telepon genggam belum dikenal, masyarakat menggunakan telepon umum dengan koin atau kartu. Wartel selalu ramai oleh orang-orang yang rela mengantre hanya untuk mendengar suara keluarga atau menyampaikan kabar kepada rekan bisnis. Bahkan sebelum telepon menjadi kebutuhan umum, surat yang dikirim melalui kantor pos menjadi satu-satunya cara untuk berkomunikasi jarak jauh. Balasan surat bisa datang berminggu-minggu kemudian, tetapi setiap kata memiliki makna, setiap kalimat ditulis dengan penuh perhatian, dan setiap kabar sangat dihargai.

Perkembangan zaman menghadirkan SMS, kemudian BlackBerry Messenger (BBM), lalu WhatsApp, Telegram, dan berbagai aplikasi komunikasi digital lainnya. Dunia berubah begitu cepat. Jarak bukan lagi penghalang. Informasi berpindah dalam hitungan detik. Rapat bisa dilakukan dari tempat yang berbeda. Bisnis dapat dijalankan tanpa harus selalu bertatap muka. Seharusnya, kemajuan ini membuat manusia semakin mudah menjalin silaturahmi, memperkuat kerja sama, memperluas jaringan usaha, dan mempererat persaudaraan.

Namun kenyataan yang saya lihat justru mengundang keprihatinan.

Hari ini, banyak orang aktif di puluhan grup WhatsApp. Mereka membaca hampir semua pesan yang masuk, tetapi sangat sedikit yang benar-benar berkomunikasi. Grup yang semestinya menjadi ruang diskusi, bertukar informasi, berbagi pengalaman, dan memperkuat kebersamaan, justru berubah menjadi ruang sunyi yang dipenuhi pembaca tanpa respons.

Lebih ironis lagi ketika ada anggota baru yang masuk ke dalam grup. Dengan penuh sopan santun ia memperkenalkan diri, mengucapkan salam, dan berharap diterima sebagai bagian dari keluarga besar komunitas tersebut. Pesannya dibaca oleh puluhan bahkan ratusan anggota. Dua centang biru terlihat di mana-mana. Namun balasan hampir tidak ada. Salam tidak dijawab. Sapaan diabaikan. Padahal, untuk mengetik satu kalimat sederhana seperti “Selamat bergabung, semoga kita bisa saling belajar” hanya membutuhkan waktu beberapa detik.

Masalahnya bukan karena kita tidak memiliki waktu. Masalahnya adalah kita mulai kehilangan kepedulian.

Komunikasi bukan hanya soal berbicara. Komunikasi adalah cerminan karakter. Dari cara seseorang membalas pesan, menyapa orang lain, menghargai pendapat, hingga merespons salam, di situlah terlihat kualitas kepribadiannya. Integritas tidak hanya tampak ketika seseorang memimpin rapat atau memberikan pidato, tetapi juga ketika ia mampu menghormati orang lain dalam percakapan yang sederhana.

Dalam organisasi, komunikasi adalah fondasi utama yang membangun kepercayaan. Dalam dunia usaha, komunikasi melahirkan peluang dan memperkuat kemitraan. Dalam keluarga, komunikasi menciptakan kasih sayang. Dalam masyarakat, komunikasi menumbuhkan persatuan. Tanpa komunikasi yang baik, hubungan akan renggang, kesalahpahaman akan semakin sering terjadi, dan rasa saling memiliki perlahan akan menghilang.

Penelitian dari para ahli komunikasi menunjukkan bahwa organisasi yang memiliki budaya komunikasi terbuka cenderung lebih solid, lebih inovatif, dan lebih berhasil mencapai tujuan bersama. Sementara kajian tentang modal sosial menjelaskan bahwa kemajuan suatu komunitas sangat ditentukan oleh kepercayaan, etika, dan kebiasaan saling menghargai antaranggotanya. Dengan kata lain, teknologi hanyalah alat. Nilai yang menentukan manfaatnya tetaplah manusia.

Kini kita telah berada di tahun 2026. Artificial Intelligence berkembang sangat pesat. Teknologi semakin pintar. Dunia semakin digital. Tetapi ada satu pertanyaan yang terus mengusik pikiran saya.

Apakah karakter manusia juga berkembang seiring kemajuan teknologi? Ataukah justru semakin menurun?

Kalau hari ini kita mulai malas menyapa, enggan menjawab salam, tidak peduli terhadap orang lain, dan menganggap komunikasi hanya sebatas membaca pesan, lalu apa yang akan dipelajari oleh anak-anak dan cucu-cucu kita kelak?

Jangan sampai mereka tumbuh di tengah teknologi paling modern, tetapi miskin etika. Jangan sampai mereka mampu berbicara dengan siapa pun di seluruh dunia, tetapi tidak mampu menghargai orang yang berada di sampingnya.

Karena sesungguhnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kecepatan internetnya, kecanggihan telepon genggamnya, atau kecerdasan teknologinya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang masyarakatnya tetap menjaga adab, menghormati sesama, menjunjung tinggi etika, dan tidak pernah melupakan pentingnya silaturahmi.

Mari kita jadikan setiap pesan yang kita kirim sebagai jembatan persaudaraan. Jadikan setiap grup sebagai ruang berbagi ilmu. Jadikan setiap salam sebagai doa yang menguatkan persatuan. Dan jadikan setiap komunikasi sebagai ladang kebaikan yang akan dikenang, bukan hanya oleh manusia, tetapi juga menjadi amal yang bernilai di hadapan Tuhan.

Karena teknologi akan terus berubah mengikuti zaman. Tetapi adab, etika, integritas, dan kepedulian adalah warisan terbaik yang harus kita tinggalkan untuk generasi masa depan.

Salam Inspirasi,

“Membangun manusia jauh lebih penting daripada membangun teknologi. Sebab teknologi tanpa karakter hanya akan melahirkan manusia yang cerdas, tetapi kehilangan hati.”
Aditya