Oleh: Muhammad Aditya Prabowo| Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nusantara
Ada istilah yang sangat sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, yaitu “nasi sudah menjadi bubur”. Biasanya istilah ini digunakan ketika seseorang mengalami kegagalan atau salah mengambil keputusan dan merasa sudah tidak ada lagi yang bisa diperbaiki. Namun, setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dalam belajar dan mencoba bisnis properti, saya justru melihat istilah tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Menurut saya, nasi yang sudah menjadi bubur bukan berarti semuanya selesai. Justru dari kesalahan dan kegagalan itulah seseorang bisa mendapatkan pengalaman yang mungkin tidak akan pernah diperoleh hanya dari membaca buku atau mengikuti pelatihan.
Kisah ini berawal pada tahun 2014 ketika saya memiliki keinginan untuk membangun rumah. Seperti kebanyakan orang pada saat itu, saya mencoba mencari berbagai referensi melalui Google. Saya mengetik kata “RAB bangun rumah” dan dari hasil pencarian tersebut muncul banyak sekali pilihan. Saya kemudian membuka salah satu halaman yang berada di bagian paling atas. Awalnya saya mengira isinya hanya membahas tentang RAB pembangunan rumah, tetapi ternyata di dalamnya saya menemukan informasi mengenai bagaimana cara menjalankan bisnis sebagai developer properti.
Karena penasaran, saya mulai membaca dan mempelajari isi halaman tersebut. Ternyata di sana juga ditawarkan sebuah workshop tentang bisnis properti dengan biaya sekitar Rp2,5 juta. Saat itu saya masih berpikir, apakah benar dengan uang Rp2,5 juta saya bisa mendapatkan ilmu yang cukup untuk memahami bisnis developer properti? Saya masih ragu dan akhirnya link tersebut tidak saya ikuti. Mungkin kalau waktu itu saya langsung mengikuti pelatihan tersebut, perjalanan saya akan berbeda. Tetapi pada kenyataannya saya memilih untuk menunda karena keraguan saya sendiri.

Hari demi hari berlalu, tetapi rasa penasaran saya terhadap bisnis properti justru semakin besar. Saya mulai mencari pelatihan-pelatihan yang lokasinya dekat dan harganya relatif murah. Ada yang hanya sekitar Rp400 ribu untuk satu kali pertemuan. Saya berpikir, tidak apa-apa mulai dari yang murah, yang penting saya mendapatkan ilmu. Tanpa terasa, saya sudah mengikuti puluhan pelatihan. Saya juga mulai membeli buku-buku tentang properti dan berbagai buku yang membahas seluk-beluk bisnis properti. Salah satunya adalah buku tentang Ciputra yang merupakan salah satu maestro properti di Indonesia.
Semakin banyak saya belajar, ternyata rasa penasaran saya justru semakin besar. Saya terus mencari informasi dari berbagai sumber. Saya mengikuti pelatihan, membaca buku, berdiskusi dengan orang lain, dan mencoba memahami bagaimana sebenarnya bisnis properti itu dijalankan. Tetapi ada satu persoalan yang saat itu tidak saya sadari. Saya terlalu banyak belajar, tetapi belum cukup berani untuk mengambil tindakan. Saya memiliki banyak teori di kepala, tetapi masih bingung bagaimana menerapkannya dalam kondisi nyata.
Akhirnya saya memberanikan diri mengikuti pelatihan yang pertama kali saya temukan melalui Google. Nama penyelenggaranya sengaja saya samarkan karena saya tidak ingin menyinggung pihak mana pun. Saya datang dengan harapan setelah mengikuti pelatihan tersebut saya bisa langsung memahami langkah-langkah menjadi developer properti. Tetapi ternyata kenyataannya tidak seperti yang saya bayangkan. Setelah pulang dari pelatihan, saya masih menghadapi kebingungan. Ilmu memang bertambah, tetapi pertanyaan berikutnya justru muncul, yaitu setelah ini saya harus mulai dari mana?
Karena masih mencari jawaban, saya kemudian bergabung dengan salah satu komunitas properti. Untuk menjadi anggota, saya membayar uang pangkal sekitar Rp2,5 juta. Di dalam komunitas tersebut saya bertemu dengan banyak orang dan mendapatkan berbagai macam informasi mengenai properti. Ada yang menawarkan konsep bisnis dari A sampai Z, ada yang berbicara tentang tanah, pembangunan, pemasaran, sampai bagaimana mencari investor. Saya kembali mencoba mengikuti alurnya karena saya merasa mungkin inilah jalan yang selama ini saya cari.
Saya juga sempat bergabung dengan komunitas lain dan mulai lebih sering mencari tanah bersama teman-teman. Kami berdiskusi, mencari lokasi, menghitung peluang, dan mencoba memahami bagaimana sebuah proyek properti bisa dijalankan. Tanpa terasa, biaya yang saya keluarkan semakin besar. Pada saat itu saya mulai menyadari bahwa belajar ternyata juga membutuhkan biaya, bukan hanya uang tetapi juga waktu, tenaga, dan kesempatan.
Sampai akhirnya saya memberanikan diri mengambil langkah nyata dengan memulai aset dari sebidang tanah sekitar 500 meter persegi. Saya mencoba mempraktikkan ilmu yang saya dapatkan dari workshop, buku, komunitas, dan berbagai artikel yang saya baca di internet. Di situlah saya mulai merasakan perbedaan antara teori dengan kenyataan di lapangan.
Apa yang tertulis di buku ternyata tidak selalu semudah ketika dipraktikkan. Saya harus berhadapan dengan berbagai persoalan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Karena perencanaan yang belum cukup matang, kondisi keuangan saya ikut terganggu. Yang sebelumnya tidak memiliki utang, akhirnya saya harus berutang untuk menjalankan dan menyelesaikan persoalan yang muncul. Bahkan saya harus menjual aset kendaraan dan rumah untuk menutup kewajiban yang ada.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik terberat dalam perjalanan saya. Saya kembali bergabung dengan beberapa pelaku properti dan hampir saja terjebak lagi dengan pola yang sama. Pada suatu titik saya benar-benar merasa down. Mendengar kata “properti” saja rasanya sudah membuat perut saya mual. Saya merasa sudah mengeluarkan begitu banyak uang, waktu, dan tenaga untuk belajar, tetapi hasilnya belum seperti yang saya harapkan.
Di tengah kondisi tersebut, saya justru mendapatkan pelajaran dari sesuatu yang sangat sederhana. Suatu ketika saya membuka YouTube dan menemukan sebuah postingan yang menyampaikan pesan kurang lebih seperti ini: jangan pernah belajar hanya karena cover atau kemasannya terlihat bagus. Buka isinya, baca, amati, dan pahami apa yang sebenarnya ada di dalamnya.
Kalimat sederhana tersebut membuat saya berpikir ulang tentang perjalanan saya selama ini. Saya mulai menyadari bahwa selama ini saya terlalu banyak mengejar pelatihan, seminar, buku, dan komunitas tanpa benar-benar menyaring mana ilmu yang memang saya butuhkan dan mana yang hanya membuat saya semakin banyak teori. Sejak saat itu saya mulai mengubah cara belajar.
Saya mulai belajar dari banyak hal yang sebelumnya mungkin saya anggap sederhana. Saya sering berdiskusi sambil ngopi dengan orang-orang yang memiliki pengalaman berbeda. Dari obrolan santai tersebut ternyata banyak sekali wawasan yang saya dapatkan. Saya mulai memahami bagaimana orang lain mengambil keputusan, bagaimana mereka menghadapi masalah, dan bagaimana mereka melihat sebuah peluang. Saya juga mulai berani datang ke proyek-proyek properti yang mangkrak. Saya ingin melihat secara langsung mengapa sebuah proyek bisa berhenti dan apa kesalahan yang mungkin terjadi di dalamnya.
Dari sana saya mulai memahami bahwa belajar properti tidak hanya tentang bagaimana mencari tanah, membangun rumah, kemudian menjualnya. Ada banyak aspek yang harus dipahami, mulai dari perencanaan, legalitas, pembiayaan, kondisi pasar, kemampuan pemasaran, manajemen proyek, sampai kemampuan membaca risiko. Sebuah konsep yang terlihat bagus di atas kertas belum tentu cocok ketika diterapkan di lapangan.
Perjalanan saya kemudian membawa saya dipercaya menjadi dewan pembina di salah satu asosiasi properti. Bagi saya, posisi tersebut bukan sekadar sebuah jabatan, tetapi menjadi kesempatan untuk belajar lebih banyak. Saya bertemu dengan banyak anggota yang memiliki masalah dan pengalaman berbeda. Menariknya, banyak kegagalan yang mereka ceritakan ternyata hampir sama dengan apa yang pernah saya alami.
Ada yang salah dalam menghitung, ada yang terlalu cepat mengambil keputusan, ada yang kurang memahami pasar, ada yang terlalu percaya dengan sebuah konsep, dan ada juga yang menjalankan proyek tanpa perencanaan yang benar-benar matang. Dari pengalaman mereka, saya kembali belajar. Saya bisa berbagi pengalaman berdasarkan apa yang pernah saya alami sendiri, bukan hanya berdasarkan teori yang pernah saya baca.
Seiring berjalannya waktu, saya kemudian dipercaya secara aklamasi menjadi ketua umum di organisasi tersebut. Tanggung jawab tersebut justru membuat saya semakin sadar bahwa ilmu properti tidak pernah ada akhirnya. Semakin banyak bertemu orang, semakin banyak melihat proyek, dan semakin banyak mendengar persoalan yang terjadi di lapangan, saya semakin memahami bahwa pengalaman adalah guru yang sangat mahal.
Kalau saya melihat kembali perjalanan saya sejak tahun 2014, ada satu hal yang cukup saya sesali. Bukan karena saya pernah gagal, tetapi karena pada awalnya saya terlalu banyak ragu. Waktu itu saya melihat angka Rp2,5 juta dan berpikir apakah ilmu tersebut benar-benar sepadan dengan harganya. Namun setelah perjalanan yang panjang, saya justru mengeluarkan uang yang jauh lebih besar untuk berbagai pelatihan, buku, komunitas, perjalanan, hingga membayar mahal kesalahan yang terjadi ketika saya mulai mempraktikkan ilmu tersebut.
Dari pengalaman itu saya belajar bahwa jangan pernah menilai sebuah ilmu hanya dari nominal yang harus kita keluarkan. Yang harus kita lihat adalah nilai dari ilmu tersebut, siapa yang memberikan ilmu, bagaimana rekam jejaknya, apakah ilmunya benar-benar bisa diterapkan, dan apakah ilmu tersebut bisa membantu kita menghindari kesalahan yang lebih mahal.
Tetapi saya juga tidak ingin mengatakan bahwa semakin mahal sebuah pelatihan berarti semakin bagus. Tidak seperti itu. Kita tetap harus kritis. Jangan membeli ilmu hanya karena melihat kemasannya menarik. Jangan mengikuti seseorang hanya karena namanya terkenal. Jangan percaya pada sebuah konsep hanya karena orang lain terlihat berhasil menjalankannya. Kita harus membaca, mengamati, bertanya, membandingkan, dan kemudian menyesuaikannya dengan kondisi kita sendiri.
Pada akhirnya saya menyadari bahwa pengalaman paling berharga dalam hidup bukan selalu datang dari keberhasilan. Kadang justru datang dari saat kita salah mengambil keputusan, kehilangan uang, mengalami kegagalan, merasa kecewa, bahkan sampai berada pada titik ingin menyerah. Selama kita mau belajar dari semua itu, kegagalan tidak akan pernah benar-benar menjadi sesuatu yang sia-sia.
Nasi mungkin sudah menjadi bubur, tetapi bukan berarti bubur tersebut tidak bisa dinikmati. Kita masih bisa menambahkan bumbu, memperbaiki rasanya, dan menjadikannya sesuatu yang lebih baik. Begitu juga dengan kehidupan. Kita memang tidak bisa kembali ke masa lalu dan mengubah keputusan yang sudah kita ambil, tetapi kita masih bisa menentukan apa yang akan kita lakukan setelahnya.
Karena itu, bagi siapa pun yang saat ini sedang merasa gagal, sedang menyesal karena melewatkan sebuah kesempatan, atau merasa sudah terlalu banyak mengeluarkan biaya untuk belajar dan mencoba sesuatu, jangan langsung menganggap semuanya sia-sia. Bisa jadi pengalaman tersebut sedang membentuk cara berpikir yang jauh lebih matang untuk menghadapi kesempatan berikutnya.
Bagi saya sendiri, perjalanan di dunia properti bukan hanya tentang mencari keuntungan dari sebuah aset. Perjalanan ini telah mengajarkan bagaimana mengambil keputusan, bagaimana menghadapi risiko, bagaimana menerima kegagalan, dan bagaimana belajar dari pengalaman orang lain.
Jadi, kalau saya harus menyimpulkan perjalanan ini dalam satu kalimat, saya akan mengatakan: jangan pernah memperhitungkan mahalnya sebuah ilmu hanya berdasarkan nominal uang yang kita keluarkan. Hitung juga berapa mahalnya kesalahan yang mungkin bisa kita hindari karena ilmu tersebut.
Dan yang paling penting, jangan hanya belajar karena ingin terlihat pintar. Belajarlah supaya ketika kesempatan datang, kita sudah lebih siap untuk mengambil keputusan dengan perhitungan yang matang.
Karena terkadang, kesempatan yang kita lewatkan karena ragu akan menjadi penyesalan. Tetapi kegagalan yang kita jalani dan kita pelajari dengan sungguh-sungguh bisa berubah menjadi pengalaman yang membawa kita menuju perjalanan yang jauh lebih baik.









