PEDE Itu Perlu, Asalkan Tahu untuk Apa

Share :

Ketua Umum HIPNUSA menyampaikan pentingnya rasa percaya diri sebagai modal utama kepemimpinan, kewirausahaan, dan membangun organisasi yang kuat.
Baca Juga :

Oleh: Muhammad Aditya Prabowo
Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nusantara (HIPNUSA)

Tidak sedikit orang yang mengatakan kepada saya, “Pak Aditya itu orangnya pede.” Bahkan ada yang berseloroh, “Pak, Bapak ini pede habis!”

Saya hanya tertawa. Dalam hati saya sempat bertanya, sebenarnya apa yang mereka maksud dengan “pede habis” itu? Jangan sampai saya salah menerjemahkannya. Setelah saya renungkan, saya justru menemukan bahwa ungkapan itu bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Selama rasa percaya diri itu lahir dari niat yang baik, dibangun di atas kemampuan yang terus diasah, dan digunakan untuk memberi manfaat bagi orang lain, mengapa harus malu untuk percaya diri?

Bagi saya, menjadi percaya diri bukan berarti merasa paling hebat. Percaya diri adalah keberanian untuk berdiri di depan ketika banyak orang memilih mundur. Percaya diri adalah kesiapan mengambil tanggung jawab ketika orang lain masih sibuk mencari alasan. Percaya diri adalah keyakinan bahwa setiap tantangan selalu memiliki jalan keluar selama kita mau berpikir, bekerja, dan berdoa.

Dalam dunia usaha, rasa percaya diri bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian dari modal yang tidak tertulis. Seorang pedagang setiap hari menawarkan barang dagangannya kepada calon pembeli. Seorang pengusaha menawarkan produk, jasa, gagasan, bahkan kepercayaan. Pertanyaannya sederhana, bagaimana mungkin orang lain yakin terhadap apa yang kita tawarkan jika kita sendiri tidak yakin terhadap diri kita?

Tidak ada investor yang tertarik kepada pengusaha yang selalu ragu. Tidak ada pelanggan yang nyaman membeli dari penjual yang tidak percaya pada kualitas produknya. Begitu pula dalam organisasi. Anggota akan sulit percaya kepada pemimpinnya apabila pemimpinnya sendiri tidak memiliki keyakinan terhadap visi yang sedang diperjuangkan.

Itulah sebabnya saya selalu mengatakan bahwa seorang pemimpin memang harus percaya diri. Bukan untuk dipuji, bukan untuk terlihat hebat, tetapi karena kepercayaan diri adalah energi yang menumbuhkan optimisme di sekelilingnya. Pemimpin yang percaya diri mampu menenangkan ketika keadaan sulit, memberi arah ketika situasi membingungkan, dan menyalakan harapan ketika banyak orang mulai kehilangan semangat.

Ilmu psikologi pun mendukung pandangan ini. Psikolog Albert Bandura menjelaskan bahwa keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri akan memengaruhi keberanian bertindak, ketekunan menghadapi tantangan, dan peluang untuk berhasil. Dengan kata lain, rasa percaya diri bukan hanya persoalan sikap, tetapi juga salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan seseorang dalam mencapai tujuannya.

Namun, saya juga percaya bahwa rasa percaya diri harus selalu ditemani oleh kerendahan hati. Sebab ketika percaya diri kehilangan kebijaksanaan, ia dapat berubah menjadi kesombongan. Sebaliknya, ketika kerendahan hati tidak diiringi keberanian, seseorang akan kehilangan kesempatan untuk berkembang. Keseimbangan antara keyakinan dan kerendahan hati itulah yang melahirkan pemimpin yang disegani, bukan ditakuti; dihormati, bukan sekadar dikenal.

Sebagai Ketua Umum HIPNUSA, saya lebih memilih disebut terlalu percaya diri daripada menjadi pemimpin yang ragu-ragu mengambil keputusan. Sebab organisasi membutuhkan pemimpin yang berani melangkah, berani mengambil risiko yang terukur, dan berani bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil. Keraguan yang terus dipelihara hanya akan memperlambat kemajuan, sedangkan keberanian yang disertai perhitungan akan membuka banyak peluang.

Karena itu, jika hari ini masih ada yang mengatakan bahwa saya “pede habis”, saya menerimanya dengan senyuman. Bagi saya, menjadi percaya diri bukanlah sebuah kekurangan. Justru itulah sikap yang harus dimiliki oleh setiap pedagang, setiap pengusaha, setiap pemimpin, dan setiap orang yang ingin membawa perubahan.

Mari kita bangun rasa percaya diri, bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk meningkatkan kualitas diri. Percaya diri bukan agar kita tampak lebih besar daripada orang lain, melainkan agar kita mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi orang lain.

Ingatlah, peluang tidak datang kepada mereka yang terus-menerus ragu. Peluang lebih sering menghampiri mereka yang berani berkata, “Saya siap mencoba, saya siap belajar, dan saya siap bertanggung jawab.”

Karena pada akhirnya, masa depan bukan milik mereka yang paling banyak mengeluh, melainkan milik mereka yang berani melangkah dengan keyakinan, kerja keras, dan integritas.