Fenomena perumahan mangkrak kembali menjadi sorotan publik. Di berbagai daerah, proyek hunian yang tidak selesai menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, terutama bagi konsumen dan investor yang telah menanamkan dana.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Umum HIPNUSA, Muhammad Aditya, memberikan pandangan yang lebih komprehensif terkait akar permasalahan yang terjadi.
Menurut Muhammad Aditya, persepsi bahwa proyek mangkrak terjadi karena tidak adanya pembeli perlu diluruskan.
“Banyak yang mengira proyek mangkrak karena pasar tidak ada. Padahal, berdasarkan pengamatan kami, sekitar 30% kasus justru disebabkan oleh kesalahan dalam pengelolaan proyek, bukan karena sepi pembeli,” ujarnya.
dari sisi permintaan, tetapi juga dari kualitas pengelolaan proyek itu sendiri.
Muhammad Aditya juga merujuk pada data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa kebutuhan perumahan di Indonesia masih besar.
Beberapa indikator yang menjadi perhatian:
- Backlog perumahan masih berada di kisaran jutaan unit
- Pertumbuhan rumah tangga baru terus meningkat setiap tahun
- Kepemilikan rumah belum sepenuhnya mencerminkan kelayakan hunian
“Data ini menunjukkan bahwa pasar masih ada. Bahkan, kebutuhan hunian masih sangat tinggi. Jadi, tidak tepat jika kegagalan proyek selalu dikaitkan dengan tidak adanya pembeli,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa banyak proyek mengalami hambatan karena faktor internal.
Beberapa di antaranya meliputi:
- Perencanaan yang tidak matang
- Pengelolaan keuangan yang kurang disiplin
- Kurangnya sistem kontrol dan pengawasan
- Minimnya transparansi kepada konsumen
Menurutnya, kesalahan-kesalahan tersebut dapat memperbesar risiko proyek berhenti di tengah jalan.
Sebagai organisasi yang fokus pada pengembangan mental, HIPNUSA juga menyoroti aspek psikologis dalam pengelolaan proyek.
Muhammad Aditya menjelaskan bahwa keputusan bisnis sering kali dipengaruhi oleh kondisi mental pelaku usaha.
“Dalam banyak kasus, kita melihat adanya bias kognitif seperti terlalu optimis, mencari pembenaran, atau tetap melanjutkan proyek meskipun sudah bermasalah. Ini adalah faktor yang sering tidak disadari,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa kemampuan mengelola stres dan emosi juga sangat menentukan kualitas pengambilan keputusan.
Perumahan mangkrak memberikan dampak yang tidak kecil. Bagi konsumen, kondisi ini dapat menimbulkan kerugian finansial dan ketidakpastian kepemilikan. Sementara bagi investor, risiko meningkat dan kepercayaan terhadap sektor properti dapat menurun.
Di sisi lain, fenomena ini juga memengaruhi citra industri properti secara keseluruhan. Sebagai bentuk tanggung jawab bersama, Ketua Umum HIPNUSA mendorong adanya perbaikan dalam pengelolaan proyek properti.
Ia menyarankan agar para developer:
- Menggunakan data sebagai dasar perencanaan
- Meningkatkan transparansi
- Menerapkan sistem manajemen yang lebih profesional
Sementara bagi masyarakat, ia mengimbau untuk lebih cermat dan kritis dalam memilih proyek properti.
Fenomena perumahan mangkrak tidak dapat disederhanakan hanya sebagai akibat dari lemahnya pasar. Data dan fakta menunjukkan bahwa kebutuhan hunian di Indonesia masih tinggi.
Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Umum HIPNUSA:
“Masalah utamanya bukan pada pasar, tetapi pada bagaimana proyek itu dikelola.”
Dengan pendekatan yang lebih profesional, berbasis data, serta didukung kesiapan mental yang baik, diharapkan industri properti dapat berkembang lebih sehat dan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat.








