CIREBON, 14 Oktober 2026 — Ketidakpastian kondisi ekonomi menuntut para pengusaha untuk lebih cermat dalam menyusun perencanaan bisnis, mengendalikan biaya operasional, dan menjaga kestabilan arus kas (cash flow). Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membangun kerja sama antarpelaku usaha melalui sistem manajemen kolaboratif.
Hal tersebut menjadi pokok pembahasan dalam diskusi pagi sambil menikmati kopi di salah satu kafe di kawasan Kota Cirebon, pada Rabu (14/10/2026). Dalam kesempatan itu, Muhammad Aditya Prabowo, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nusantara (HIPNUSA), berdiskusi dengan Bachtiar, salah satu pemilik lahan kafe di Kota Cirebon, mengenai strategi mempertahankan keberlangsungan usaha di tengah perubahan kondisi pasar.
Aditya menilai, pengusaha saat ini perlu lebih matang dalam menyusun perencanaan kerja dan memperhitungkan berbagai risiko bisnis. Kenaikan biaya sewa tempat, harga bahan baku, serta biaya operasional yang terjadi secara tiba-tiba dapat mengganggu arus kas apabila tidak diantisipasi sejak awal.
“Seorang pengusaha harus benar-benar matang dalam membuat perencanaan kerja. Jangan sampai arus kas usaha kita terganggu karena kenaikan biaya sewa tempat atau bahan baku yang datang secara tiba-tiba. Kita harus mulai berpikir bagaimana menjalankan usaha secara lebih efisien tanpa mengurangi kualitas produk dan pelayanan,” ujar Aditya dalam diskusi tersebut.
Menurutnya, pengendalian biaya tidak cukup hanya dilakukan dengan mengurangi pengeluaran. Pengusaha juga perlu mengevaluasi sistem operasional, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, serta mencari pola kerja sama yang memungkinkan biaya ditanggung dan dikelola secara lebih efektif.
Aditya menjelaskan bahwa perubahan kondisi persaingan bisnis membuat pengusaha, khususnya pelaku usaha kecil dan menengah, perlu mengubah pola pikir. Menjalankan usaha secara mandiri tetap memungkinkan, tetapi keterbatasan modal, sumber daya, jaringan, dan akses pasar dapat menjadi tantangan ketika harus bersaing dengan pelaku usaha bermodal besar.
“Zaman sekarang sudah berubah. Semakin berat bagi pengusaha untuk hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Kita bisa menghadapi persaingan dengan pemain besar yang datang dan membuka usaha secara tiba-tiba. Karena itu, pengusaha kecil harus mampu membangun kolaborasi dan bekerja sama dengan bidang usaha lainnya,” kata Aditya.
Ia menambahkan, kolaborasi dapat dilakukan melalui berbagai bentuk kerja sama, seperti berbagi fasilitas, mengoptimalkan penggunaan lahan, membangun jaringan pemasok, melakukan promosi bersama, hingga menciptakan kegiatan usaha yang saling mendukung. Dengan pengelolaan yang tepat, pola tersebut berpotensi menekan biaya, memperluas pasar, dan meningkatkan daya saing setiap pelaku usaha.
Namun, Aditya menekankan bahwa kolaborasi harus dibangun dengan perencanaan yang jelas, pembagian tanggung jawab yang disepakati, serta perhitungan bisnis yang matang agar seluruh pihak memperoleh manfaat secara proporsional.
Sebagai bagian dari upaya mendorong kerja sama antarpengusaha, HIPNUSA tengah menggalakkan konsep PUJA SERA GOTONG ROYONG, sebuah gagasan pengembangan usaha berbasis kolaborasi dan pemanfaatan potensi bersama.
Melalui konsep ini, para pelaku usaha diharapkan dapat membangun ekosistem bisnis yang saling mendukung. Pemilik lahan, pengelola usaha kuliner, pemasok bahan baku, pelaku UMKM, dan mitra pendukung lainnya dapat dipertemukan dalam model kerja sama yang terencana.
Aditya menjelaskan bahwa pendekatan tersebut diharapkan dapat membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis tanpa harus menanggung seluruh kebutuhan investasi dan operasional secara sendiri-sendiri. Setiap pihak dapat berkontribusi sesuai dengan aset, keahlian, atau sumber daya yang dimilikinya.
“Melalui PUJA SERA GOTONG ROYONG, kita ingin membangun pola usaha yang mengedepankan kebersamaan. Pemilik lahan memiliki aset, pelaku usaha memiliki produk dan kemampuan mengelola bisnis, sementara pihak lain dapat mendukung dari sisi bahan baku, pemasaran, maupun jaringan. Jika semuanya dikelola dengan baik, kita bisa membangun usaha yang saling menguntungkan,” jelasnya.
Konsep tersebut juga menekankan pentingnya tata kelola, transparansi, pembagian hasil, dan kesepakatan kerja sama yang jelas agar kolaborasi dapat berjalan secara profesional dan berkelanjutan.
Dalam diskusi tersebut, Bachtiar menyambut baik gagasan yang disampaikan Aditya mengenai pentingnya kolaborasi dalam menghadapi tantangan usaha. Konsep PUJA SERA GOTONG ROYONG dinilai relevan untuk membuka peluang kerja sama antara pemilik aset dan pelaku usaha yang ingin mengembangkan bisnisnya.
Pertemuan tersebut menjadi ruang awal untuk bertukar pandangan mengenai kemungkinan pengembangan model usaha yang lebih efisien melalui pemanfaatan potensi bersama. Gagasan ini diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui pembahasan yang lebih konkret, termasuk mengenai bentuk kerja sama, pengelolaan operasional, kebutuhan modal, dan pembagian tanggung jawab para pihak.
Aditya berharap semakin banyak pengusaha yang mulai melihat kolaborasi sebagai strategi bisnis, bukan sekadar pilihan ketika menghadapi kesulitan. Dengan jaringan yang kuat dan perencanaan yang matang, pelaku usaha memiliki kesempatan lebih besar untuk menghadapi perubahan pasar dan mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.
Melalui PUJA SERA GOTONG ROYONG, HIPNUSA mendorong semangat pengusaha untuk tidak berjalan sendiri, melainkan membangun kekuatan bersama demi menciptakan usaha yang lebih efisien, berdaya saing, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.








