Pendahuluan
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) telah lama diakui sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia. Kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja dan produk domestik bruto (PDB) sangat besar. Namun ironisnya, di tengah banyaknya organisasi, asosiasi, dan komunitas pengusaha yang berdiri, masih banyak pelaku UMKM yang merasa berjalan sendiri tanpa pendampingan yang nyata. Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting: mengapa UMKM masih membutuhkan peran nyata dari sebuah organisasi seperti HIPNUSA, padahal organisasi sejenis sudah begitu banyak?
UMKM: Besar secara jumlah, lemah secara akses
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM serta Badan Pusat Statistik (BPS), UMKM mencakup lebih dari 99 persen unit usaha di Indonesia dan menyerap lebih dari 90 persen tenaga kerja nasional. Namun, mayoritas UMKM masih menghadapi persoalan klasik, antara lain:
- Keterbatasan akses permodalan formal
- Lemahnya manajemen usaha dan pembukuan
- Akses pasar yang sempit dan tidak berkelanjutan
- Minimnya pendampingan legalitas dan standardisasi produk
Banyak program pemerintah telah diluncurkan, tetapi tanpa pendampingan organisasi yang kuat dan konsisten, manfaatnya sering kali tidak dirasakan langsung oleh pelaku usaha di akar rumput.
Banyak organisasi, mengapa solusi masih minim?
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan organisasi pengusaha belum otomatis menjawab kebutuhan UMKM. Beberapa persoalan utama yang kerap muncul adalah:
- Pendekatan seremonial
Banyak organisasi lebih fokus pada kegiatan formal seperti rapat, deklarasi, atau acara simbolik, dibanding pendampingan usaha yang berkelanjutan. - Program yang tidak terintegrasi
Pelatihan, akses modal, dan pemasaran sering berjalan sendiri-sendiri tanpa ekosistem yang saling terhubung. - Minimnya keberpihakan pada UMKM mikro
UMKM skala mikro sering kali tersisih karena keterbatasan kapasitas dan dianggap “belum siap” masuk ke program utama.
Akibatnya, pelaku UMKM tidak merasakan organisasi sebagai “rumah”, melainkan hanya sebagai nama tanpa manfaat langsung.
Tujuan dan peran strategis HIPNUSA
HIPNUSA (Himpunan Pengusaha Nusantara) didirikan dengan visi menghimpun dan memberdayakan pengusaha Nusantara secara inklusif, termasuk UMKM. Tujuan utamanya meliputi:
- Menjadi wadah pemersatu pengusaha lintas sektor
- Mendorong peningkatan kapasitas dan daya saing UMKM
- Menjembatani pelaku usaha dengan pemerintah, lembaga keuangan, dan pasar
Dalam berbagai pernyataan publik dan kegiatan nasional, HIPNUSA menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjadi organisasi struktural, tetapi juga mitra strategis bagi UMKM agar mampu naik kelas.
Mengapa HIPNUSA masih dibutuhkan UMKM?
HIPNUSA menjadi relevan karena berpotensi mengisi celah yang belum terjawab oleh organisasi lain, antara lain:
- Pendekatan operasional dan membumi
HIPNUSA dapat berperan sebagai fasilitator langsung di lapangan—mendampingi UMKM dari tahap legalitas, produksi, hingga pemasaran. - Sinergi multipihak
Dengan jejaring pengusaha, pemerintah daerah, BUMN, dan swasta, HIPNUSA berpotensi membuka akses pasar dan pembiayaan yang lebih konkret. - Wadah kolektif yang inklusif
UMKM mikro dan kecil membutuhkan organisasi yang tidak elitis, tetapi memahami keterbatasan mereka dan tumbuh bersama. - Fokus pada “naik kelas”
Tidak hanya bertahan hidup, tetapi membantu UMKM meningkatkan skala usaha, kualitas produk, dan profesionalisme manajemen.
Apa yang harus diperkuat agar HIPNUSA benar-benar berdampak?
Agar tidak terjebak menjadi organisasi tambahan, HIPNUSA perlu menegaskan diferensiasinya melalui:
- Program pendampingan berkelanjutan, bukan insidental
- Model “one-stop service” bagi UMKM (izin, pembiayaan, pemasaran, digitalisasi)
- Indikator keberhasilan yang terukur (kenaikan omzet, jumlah UMKM naik kelas, akses pasar baru)
- Transparansi dan akuntabilitas program kepada anggota
Langkah-langkah ini sejalan dengan rekomendasi berbagai kajian kebijakan UMKM dari lembaga pemerintah dan akademisi yang menekankan pentingnya ekosistem, bukan sekadar program.
Penutup
Di tengah banyaknya organisasi pengusaha, UMKM Indonesia masih membutuhkan peran nyata, bukan sekadar simbol. HIPNUSA hadir dengan peluang besar untuk menjadi wadah yang benar-benar bekerja bagi UMKM menjembatani kebutuhan riil pelaku usaha dengan sumber daya yang tersedia. Tantangannya kini adalah konsistensi dan keberanian untuk bergerak lebih operasional, lebih inklusif, dan lebih berdampak. Jika itu mampu diwujudkan, HIPNUSA bukan hanya relevan, tetapi dapat menjadi bagian penting dari solusi penguatan UMKM nasional.








