“Ora Iso Ngilo Githoke Dewe”
Oleh: Muhammad Aditya Prabowo
|Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nusantara (HIPNUSA)
Dalam kehidupan, tidak ada seorang pun yang mampu melihat dirinya secara utuh. Kita sering kali begitu mudah melihat kekurangan orang lain, memberikan penilaian, bahkan memberikan nasihat. Namun ketika harus melihat kekurangan diri sendiri, kita justru sering kesulitan. Karena itulah, hidup membutuhkan orang lain sebagai cermin untuk membantu kita melihat sisi diri yang tidak mampu kita lihat sendiri.
Orang Jawa memiliki ungkapan yang sangat sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam: “Ora iso ngilo githoke dewe.” Artinya, seseorang tidak bisa melihat tengkuknya sendiri. Ungkapan ini mengajarkan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam melihat dirinya. Ada bagian-bagian tertentu dalam diri kita yang hanya dapat diketahui melalui pandangan, nasihat, dan koreksi dari orang lain.
Karena itu, ketika ada seorang sahabat yang datang dan memberitahu kesalahan kita, seharusnya kita tidak langsung tersinggung. Jangan buru-buru menganggap teguran sebagai bentuk kebencian, penghinaan, atau usaha untuk menjatuhkan kita. Bisa jadi, justru orang yang berani mengoreksi kita adalah orang yang benar-benar peduli terhadap perjalanan hidup kita.
Sahabat yang baik bukan hanya orang yang hadir ketika kita sedang bahagia atau berhasil. Sahabat yang baik adalah orang yang berani mengatakan sesuatu yang mungkin tidak ingin kita dengar, tetapi sebenarnya perlu kita dengar. Ia berani mengatakan, “Ada yang perlu kamu perbaiki.” Kalimat seperti itu terkadang terasa menyakitkan, tetapi jika disampaikan dengan niat yang baik, sesungguhnya merupakan bentuk kepedulian.
Dalam hidup, kita sering mendapatkan pujian dari banyak orang. Pujian membuat kita merasa nyaman dan dihargai. Namun, jangan sampai kita hanya mau mendengar sesuatu yang menyenangkan. Sebab pujian membuat kita nyaman, sedangkan koreksi membuat kita berkembang. Orang yang hanya ingin dipuji akan sulit berkembang, karena ia menutup pintu terhadap masukan dan hanya menerima sesuatu yang sesuai dengan keinginannya.
Ada sebuah kisah sederhana yang dapat menjadi bahan renungan. Seorang sahabat menulis sebuah artikel dan membagikannya ke dalam grup WhatsApp. Isi tulisannya sebenarnya bagus. Gagasannya ada, pesannya juga cukup kuat. Namun, tulisan tersebut tidak memiliki spasi yang baik dan paragrafnya tidak tersusun dengan rapi sehingga cukup sulit untuk dibaca.
Kemudian seorang sahabat memberikan masukan dengan maksud baik. Ia menyampaikan bahwa tulisan tersebut akan lebih nyaman dibaca jika diberikan spasi, paragraf, dan tata letak yang lebih teratur. Namun, respons yang muncul justru berbeda. Sahabat tersebut memberikan alasan bahwa ia menulis menggunakan HP.
Secara sederhana, alasan tersebut memang dapat dipahami. Menulis menggunakan HP memiliki keterbatasan dibandingkan menulis menggunakan laptop atau komputer. Namun, persoalan sebenarnya bukan semata-mata tentang perangkat yang digunakan. Persoalannya adalah bagaimana seseorang menerima sebuah koreksi dan bagaimana ia menyikapi kekurangan yang ada pada dirinya.
Ketika kita diberitahu bahwa tulisan kita kurang rapi, sebenarnya kita memiliki dua pilihan. Pilihan pertama adalah mencari alasan untuk mempertahankan keadaan tersebut. Pilihan kedua adalah menerima masukan itu sebagai bahan pembelajaran dan kemudian berusaha memperbaikinya. Pilihan kedua memang membutuhkan kerendahan hati, tetapi dari situlah seseorang dapat berkembang.
Sarana memang penting, tetapi jangan sampai sarana menjadi alasan untuk membatasi kemampuan kita sendiri. Jika kita mengatakan, “Saya hanya menggunakan HP,” lalu menjadikan hal tersebut sebagai pembenaran untuk tidak memperbaiki tulisan, secara tidak sadar kita sedang menunjukkan batas kemampuan diri sendiri. Padahal, keterbatasan sarana seharusnya menjadi tantangan untuk mencari cara yang lebih baik, bukan alasan untuk berhenti memperbaiki diri.
Sebuah tulisan bukan hanya sekumpulan kata. Tulisan juga dapat menjadi cermin dari orang yang menulisnya. Cara seseorang menyusun kalimat, mengatur paragraf, memperhatikan tanda baca, memilih kata, dan menyampaikan gagasan dapat menunjukkan bagaimana ia berpikir dan bagaimana ia memperhatikan sesuatu. Karena itu, hasil tulisan sedikit banyak dapat menggambarkan karakter orang yang membuatnya.
Hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan. Apa yang kita lakukan merupakan cermin dari diri kita. Cara kita berbicara mencerminkan karakter kita. Cara kita memperlakukan orang lain mencerminkan kepribadian kita. Cara kita menerima kritik menunjukkan kedewasaan kita. Bahkan cara kita merespons ketika kesalahan kita ditunjukkan dapat memperlihatkan apakah kita memiliki kerendahan hati untuk belajar atau justru masih dikuasai oleh ego.
Tidak ada yang salah dengan melakukan kesalahan. Semua manusia pasti pernah salah. Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang tidak mau mengakui kesalahannya hanya karena terlalu kuat mempertahankan ego. Kesalahan dapat diperbaiki, kekurangan dapat dipelajari, dan kemampuan dapat ditingkatkan. Tetapi semuanya membutuhkan satu hal yang sangat penting, yaitu kemauan untuk menerima koreksi.
Dalam sebuah organisasi seperti HIPNUSA, budaya saling mengingatkan harus menjadi bagian dari karakter bersama. Kita tidak boleh membangun organisasi yang hanya berisi orang-orang yang saling memuji, tetapi tidak ada yang berani mengingatkan ketika ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang anggotanya dapat saling memberikan masukan dengan niat membangun dan pada saat yang sama memiliki kedewasaan untuk menerima masukan tersebut.
Seorang pemimpin tidak harus selalu benar. Seorang pemimpin justru harus menjadi orang pertama yang berani mengakui ketika dirinya salah. Pemimpin yang baik bukan orang yang tidak pernah mendapatkan kritik, melainkan orang yang mampu menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi untuk menjadi lebih baik.
Karena itu, jangan takut memiliki sahabat yang berani mengoreksi kita. Jangan menjauh dari orang yang memberikan masukan hanya karena kata-katanya membuat kita tidak nyaman. Terkadang, orang yang membuat kita tidak nyaman justru sedang membantu kita melihat sesuatu yang selama ini tidak mampu kita lihat sendiri.
Mari kita belajar membedakan antara orang yang menjatuhkan kita dengan orang yang mengingatkan kita agar tidak jatuh. Keduanya mungkin sama-sama menyampaikan sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi niat dan tujuannya berbeda. Orang yang menjatuhkan ingin melihat kita gagal, sedangkan sahabat yang baik ingin melihat kita tumbuh dan menjadi lebih baik.
Pada akhirnya, kita semua masih berada dalam proses belajar. Tidak ada manusia yang selesai dengan proses memperbaiki dirinya. Hari ini kita mungkin mengoreksi orang lain, tetapi suatu hari mungkin kita yang membutuhkan koreksi. Hari ini kita mungkin merasa benar, tetapi suatu saat kita bisa menyadari bahwa ada bagian dari diri kita yang harus diperbaiki.
Maka, mari kita belajar membuka hati. Ketika sahabat mengingatkan, dengarkan. Ketika ada yang mengoreksi, renungkan. Jika memang benar, perbaiki. Jika ada perbedaan pandangan, bicarakan dengan baik. Jangan biarkan ego membuat kita kehilangan kesempatan untuk tumbuh.
“Ora iso ngilo githoke dewe.” Kita tidak mampu melihat seluruh diri kita sendiri. Karena itu, kita membutuhkan orang lain sebagai cermin. Kita membutuhkan sahabat sebagai pengingat, keluarga sebagai tempat belajar, rekan sebagai pemberi masukan, dan pengalaman sebagai guru kehidupan.
Jangan marah kepada orang yang menunjukkan kesalahan kita. Bisa jadi, melalui teguran itulah kita sedang diberi kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan terlalu sibuk mempertahankan alasan hingga lupa memperbaiki kesalahan. Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang dihargai bukan karena ia tidak pernah salah, tetapi karena ia memiliki keberanian untuk mengakui kesalahan dan kemauan untuk memperbaikinya.
Orang hebat bukanlah orang yang tidak pernah salah. Orang hebat adalah orang yang ketika kesalahannya ditunjukkan, ia mampu membuka hati, menerima, belajar, memperbaiki, dan kemudian melangkah menjadi pribadi yang lebih baik.
Mari saling mengoreksi, bukan saling menjatuhkan.
Mari saling menguatkan, bukan sekadar saling membenarkan.
Mari tumbuh bersama, belajar bersama, dan menjadi lebih baik bersama.
Salam HIPNUSA.









