Oleh: Muhammad Aditya Prabowo
|Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nusantara (HIPNUSA).
Pernahkah Anda bertemu seseorang yang datang bercerita tentang kegagalannya? Ia menceritakan panjang lebar tentang usaha yang sudah dilakukan, hambatan yang dihadapi, hingga orang-orang yang menurutnya menjadi penyebab kegagalannya. Namun, ketika kita mencoba memberikan masukan, jawabannya hampir selalu sama, “Semua sudah saya jalanin.”
Kalimat itu terdengar seperti tanda bahwa seseorang telah berusaha semaksimal mungkin. Padahal, dalam banyak keadaan, kalimat tersebut justru menunjukkan bahwa ia tidak lagi mencari solusi. Ia hanya mencari seseorang yang membenarkan cara berpikirnya.
Di sinilah letak perbedaannya. Orang yang ingin berubah akan mendengarkan, meskipun masukan itu terasa pahit. Sementara orang yang hanya ingin mencari pembenaran akan selalu memiliki alasan untuk menolak setiap saran. Seolah-olah semua jalan sudah dicoba, padahal mungkin yang belum pernah dicoba adalah mengubah cara berpikirnya.
Banyak orang tidak mampu membedakan antara menghadapi kenyataan dan mencari pelarian. Ketika masalah datang, mereka memilih menghindarinya dengan berbagai cara. Ada yang terus mendengarkan musik, bernyanyi, menonton hiburan, bermain gim, atau menghabiskan waktu di media sosial. Tidak ada yang salah dengan semua aktivitas itu. Bahkan, hiburan dapat menjadi cara yang sehat untuk mengurangi stres.
Namun, hiburan berubah menjadi pelarian ketika digunakan untuk menghindari tanggung jawab. Masalah tidak akan selesai hanya karena kita berhasil melupakan sejenak. Ketika lagu berhenti diputar, ketika layar ponsel dimatikan, atau ketika tawa telah usai, kenyataan tetap menunggu di tempat yang sama.
Ironisnya, ada orang yang hidupnya masih pas-pasan, tetapi lebih sibuk menjaga citra daripada memperbaiki kualitas dirinya. Ingin terlihat sibuk, ingin dianggap pintar, ingin selalu tampak tahu segalanya. Padahal, kesibukan tidak selalu menghasilkan kemajuan. Banyak orang terlihat sibuk setiap hari, tetapi hidupnya tidak bergerak ke mana-mana.
Orang yang benar-benar cerdas tidak merasa perlu membuktikan dirinya pintar. Ia lebih banyak belajar daripada berbicara. Ia lebih senang memperbaiki diri daripada mencari pengakuan. Sebab, ilmu bukan diukur dari seberapa banyak kita berpendapat, melainkan dari seberapa besar perubahan yang terjadi dalam kehidupan kita.
Kenyataan memang tidak selalu menyenangkan. Mengakui kesalahan jauh lebih sulit daripada menyalahkan keadaan. Mengubah kebiasaan jauh lebih berat daripada mencari alasan. Tetapi, di situlah awal dari sebuah perubahan. Tidak ada kehidupan yang membaik hanya karena seseorang pandai mengeluh atau pandai menjelaskan mengapa ia gagal.
Jika hari ini hidup terasa belum sesuai harapan, jangan buru-buru mengatakan, “Semua sudah saya jalanin.” Cobalah bertanya kepada diri sendiri, apakah saya benar-benar sudah berubah, atau hanya mengulang cara yang sama dengan harapan hasilnya berbeda?
Karena sering kali yang menghambat kita bukan kurangnya kesempatan, bukan kurangnya nasihat, bahkan bukan kurangnya kemampuan. Yang paling sering menghambat adalah ego yang merasa sudah tahu segalanya, padahal belum mau belajar apa pun.
Belajar menerima kenyataan bukan berarti menyerah. Belajar menerima kenyataan adalah keberanian untuk melihat diri sendiri dengan jujur. Dari kejujuran itulah perubahan dimulai. Sebab hidup tidak berubah karena kita pandai mencari alasan, tetapi karena kita berani mengambil tindakan.








