Jangan Menunggu Bukti, Mari Kita Wujudkan Bersama

Share :

Ketua Umum HIPNUSA menyampaikan pesan inspiratif tentang pentingnya gotong royong, kolaborasi, dan keberanian memulai usaha bersama demi membangun pengusaha Nusantara yang mandiri, berintegritas, dan berdaya saing.
Baca Juga :

Oleh: Muhammad Aditya Prabowo
Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nusantara (HIPNUSA)

Tulisan ini lahir dari sebuah refleksi sederhana, namun memiliki makna yang sangat mendalam bagi saya sebagai Ketua Umum HIPNUSA.

Inspirasi itu bermula dari Grup HIPNUSA Bidang Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (OKK). Saudara Ilham membagikan gagasan mengenai Program Masakan Nusantara. Di bawah unggahannya tertulis sebuah kalimat yang menggugah hati, “Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan lagi?” Sebuah ajakan yang mengingatkan bahwa perubahan tidak akan pernah lahir dari mereka yang hanya menunggu, tetapi dari mereka yang berani memulai.

Semangat itu kemudian saya bawa ke Grup DPW HIPNUSA DKI Jakarta, Teguh. Di sana, Ketua DPW DKI Jakarta menyampaikan beberapa ajakan kepada seluruh anggota. Namun, ada satu kalimat yang benar-benar mengetuk hati saya, yaitu:

“Jangan menunggu bukti, mari kita wujudkan bersama.”

Sebagai Ketua Umum HIPNUSA, saya memandang kalimat tersebut bukan sekadar slogan, melainkan sebuah filosofi dalam membangun organisasi. Terlalu sering kita ingin melihat hasil terlebih dahulu sebelum bersedia mengambil bagian. Kita ingin melihat organisasi berhasil sebelum kita ikut bergerak. Padahal, setiap keberhasilan selalu dimulai dari keberanian untuk melangkah ketika hasil itu belum terlihat.

Dalam perjalanan organisasi, dinamika adalah sesuatu yang pasti terjadi. Bahkan, saya meyakini bahwa dinamika merupakan tanda bahwa organisasi sedang bertumbuh. Ketika belum ada program, muncul pertanyaan, “Apa program organisasi?” Namun ketika program mulai disusun dan dijalankan, hadir berbagai masukan, usulan, kritik, bahkan kekecewaan apabila pendapat yang disampaikan belum dapat diakomodasi.

Dok. HIPNUSA

Bagi saya, semua itu adalah hal yang wajar. Kritik dan masukan merupakan bagian dari proses pendewasaan organisasi. HIPNUSA adalah rumah bersama yang dibangun atas semangat musyawarah dan keterbukaan. Akan tetapi, saya mengajak seluruh keluarga besar HIPNUSA untuk membiasakan satu hal sebelum memberikan penilaian, yaitu memahami terlebih dahulu.

Bertanyalah apabila ada yang belum dipahami. Bacalah konsep program secara menyeluruh. Pelajari latar belakangnya, tujuannya, mekanismenya, dan manfaat yang ingin diwujudkan. Jangan sampai kita menilai sebuah gagasan hanya dari potongan informasi yang belum utuh.

Program gotong royong yang sedang kita bangun bukanlah program untuk mengangkat nama seseorang, bukan pula untuk memperkaya segelintir pihak. Program ini lahir dari keinginan agar semakin banyak anggota HIPNUSA memiliki kesempatan untuk memulai usaha, bertumbuh sebagai pengusaha, dan memperoleh pengalaman membangun bisnis secara bersama-sama.

Kita memulai dari sesuatu yang sederhana, yaitu keberanian untuk bergotong royong melalui modal yang terjangkau, dikelola secara terbuka, profesional, dan bertanggung jawab. Semangat ini bukan investasi bodong, bukan pula upaya mencari sponsor ataupun donatur. Yang sedang kita bangun adalah budaya kolaborasi, budaya saling percaya, dan budaya saling menguatkan agar setiap anggota memiliki peluang untuk berkembang.

Sebagai Ketua Umum HIPNUSA, saya tidak pernah bermimpi membangun organisasi yang hanya besar dari jumlah anggotanya. Saya ingin membangun organisasi yang besar karena anggotanya benar-benar tumbuh. Organisasi yang melahirkan pengusaha-pengusaha baru, membuka lapangan pekerjaan, menggerakkan ekonomi daerah, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dok. HIPNUSA

Itulah sebabnya saya mengajak seluruh sahabat HIPNUSA untuk tidak terburu-buru menolak sebuah gagasan hanya karena belum melihat hasilnya. Mari kita kaji bersama, kita diskusikan bersama, dan jika memang ada yang perlu diperbaiki, mari kita perbaiki bersama. Karena organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang bebas dari perbedaan pendapat, melainkan organisasi yang mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk melahirkan solusi.

Nilai gotong royong yang kita usung bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga strategi membangun masa depan. Antropolog Indonesia Koentjaraningrat menjelaskan bahwa gotong royong merupakan fondasi kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Dalam ilmu kepemimpinan modern, psikolog Albert Bandura melalui konsep collective efficacy juga menjelaskan bahwa keberhasilan sebuah kelompok sangat ditentukan oleh keyakinan bersama bahwa mereka mampu mencapai tujuan melalui kerja sama yang saling menguatkan.

Saya percaya, masa depan HIPNUSA tidak ditentukan oleh siapa Ketua Umumnya, siapa pengurusnya, atau siapa yang paling banyak berbicara. Masa depan HIPNUSA ditentukan oleh seberapa besar kemauan seluruh anggotanya untuk saling percaya, saling mendukung, dan saling menguatkan.

Mari kita berhenti menjadi penonton yang menunggu keberhasilan. Mari menjadi pelaku yang bersama-sama mewujudkan keberhasilan itu.

Karena pada akhirnya, organisasi ini bukan milik Ketua Umum, bukan milik pengurus, dan bukan milik kelompok tertentu. HIPNUSA adalah rumah besar bagi seluruh anggotanya. Rumah yang akan semakin kokoh apabila dibangun dengan kepercayaan, kerja sama, dan semangat gotong royong.

Sebagaimana yang selalu saya sampaikan dalam setiap kesempatan:

“SENDIRI KITA KUAT, BERSAMA TAK TERKALAHKAN.”

Mari kita buktikan bahwa kekuatan HIPNUSA bukan terletak pada hebatnya satu orang, melainkan pada kekuatan seluruh anggotanya yang berjalan seiring, saling menopang, dan bersama-sama mewujudkan cita-cita untuk melahirkan lebih banyak pengusaha Nusantara yang berintegritas, mandiri, dan bermanfaat bagi bangsa.