Oleh: Muhammad Aditya Prabowo
(Ketua Umum HIPNUSA)
Setiap keputusan yang kita ambil hari ini akan memengaruhi perjalanan kita di masa depan. Karena itu, sebelum memutuskan bergabung dengan organisasi mana pun, luangkan waktu untuk mengenal, memahami, dan mempelajari organisasi tersebut dengan baik. Jangan sampai keputusan itu hanya didasari rasa tidak enak karena diajak teman, saudara, atau rekan kerja. Pilihan untuk bergabung dalam sebuah organisasi bukanlah keputusan sesaat, melainkan bagian dari investasi bagi masa depan.
Tidak sedikit orang yang bergabung hanya karena ikut-ikutan. Awalnya merasa sungkan untuk menolak ajakan, namun setelah beberapa bulan berjalan, mereka merasa organisasi tersebut tidak sesuai dengan harapan. Akhirnya memilih keluar. Kondisi seperti ini tentu tidak menguntungkan siapa pun, baik bagi organisasi maupun bagi diri sendiri. Waktu, tenaga, dan kesempatan yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk bertumbuh justru terbuang karena keputusan yang tidak dipertimbangkan dengan matang.
Hal yang sama berlaku ketika ingin bergabung dengan Himpunan Pengusaha Nusantara (HIPNUSA). Kenalilah terlebih dahulu visi, misi, program kerja, budaya organisasi, dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Pahami apa yang sedang dibangun, apa manfaat yang bisa diperoleh, sekaligus kontribusi apa yang dapat diberikan. Dengan begitu, keputusan untuk bergabung lahir dari keyakinan, bukan sekadar rasa sungkan atau ingin mencoba-coba.
Bergabung dalam sebuah organisasi sejatinya adalah sebuah kebutuhan, bukan sekadar pelengkap aktivitas atau tempat singgah sementara. Organisasi bukan tempat untuk ikut-ikutan, melainkan wadah untuk belajar, bertumbuh, memperluas jaringan, meningkatkan kapasitas, dan bersama-sama memberikan manfaat bagi banyak orang.
Saya sering mengibaratkan organisasi seperti sebuah mal (mall). Setiap orang datang ke mal karena memiliki tujuan. Ada yang ingin membeli kebutuhan pokok, mencari perlengkapan usaha, sekadar melihat-lihat, atau mencari informasi. Demikian pula ketika kita memasuki sebuah organisasi. Kita harus mengetahui apa yang sedang kita cari. Jangan hanya datang dan menunggu semuanya disediakan. Jadilah anggota yang aktif bertanya kepada pengurus, mengikuti kegiatan, memanfaatkan program yang tersedia, serta membangun komunikasi yang baik. Dari situlah kita akan memahami makna sebenarnya dari berorganisasi.
Organisasi juga dapat diibaratkan sebagai sebuah rumah. Pertanyaannya, kita ingin menjadi tamu atau menjadi bagian dari keluarga? Jika kita hanya menganggap diri sebagai tamu, maka hal yang wajar apabila kita menunggu dilayani, bertanya di mana letak kamar mandi, atau menunggu secangkir kopi dan teh disuguhkan oleh pemilik rumah. Namun apabila kita menganggap diri sebagai bagian dari keluarga, maka kita akan memiliki rasa memiliki. Kita akan bersama-sama menjaga rumah itu agar tetap bersih, nyaman, indah, dan menjadi tempat yang membanggakan bagi semua penghuninya.
Rasa memiliki inilah yang membedakan anggota biasa dengan anggota yang memberikan nilai bagi organisasinya. Organisasi akan tumbuh kuat apabila setiap anggotanya tidak hanya bertanya, “Apa yang saya dapatkan?”, tetapi juga, “Apa yang bisa saya berikan?” Ketika semangat memberi dan semangat belajar berjalan beriringan, organisasi akan menjadi tempat lahirnya kolaborasi, persaudaraan, dan keberhasilan bersama.
Pada akhirnya, organisasi tidak menentukan masa depan seseorang. Justru sikap, komitmen, dan kesungguhan setiap anggotalah yang menentukan sejauh mana organisasi mampu menjadi jembatan menuju kesuksesan. Maka, pilihlah organisasi dengan penuh kesadaran, bergabunglah dengan komitmen, dan ketika sudah menjadi bagian di dalamnya, jadilah pribadi yang ikut membangun, bukan sekadar hadir sebagai penonton.
“Organisasi yang hebat bukan dibangun oleh orang-orang yang hanya datang ketika membutuhkan, tetapi oleh mereka yang merasa memiliki dan ikut bertanggung jawab atas kemajuan bersama.”









