Catatan Ketua Umum HIPNUSA M. Aditya Prabowo tentang Program Campuspreneur dan pentingnya pembinaan pengusaha muda sejak dari kampus
Kamis (2/4/2026), Auditorium G.P.H. Haryo Mataram Universitas Sebelas Maret (UNS) menjadi tempat peluncuran Program Campuspreneur yang dihadiri langsung oleh Menteri Perdagangan Republik Indonesia (RI), Dr. Budi Santoso, M.Si. Saya melihat program ini sebagai langkah yang positif dalam mendorong tumbuhnya minat kewirausahaan di kalangan mahasiswa. Dunia pendidikan tinggi tidak hanya perlu mempersiapkan mahasiswa untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus, tetapi juga perlu memberikan ruang agar mereka berani menciptakan usaha dan membuka lapangan pekerjaan.
Menjadi karyawan tentu bukan sesuatu yang keliru. Dunia usaha dan industri tetap membutuhkan tenaga profesional dengan kompetensi yang baik. Namun, kita juga harus melihat persoalan ketenagakerjaan secara lebih luas. Setiap tahun semakin banyak lulusan perguruan tinggi yang masuk ke pasar kerja. Karena itu, membangun mentalitas kewirausahaan sejak mahasiswa menjadi salah satu bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan.
Saya melihat banyak mahasiswa Indonesia sebenarnya memiliki kreativitas dan keberanian untuk memulai usaha. Ada yang sudah membuat produk makanan, fesyen, kerajinan, teknologi, hingga usaha berbasis digital. Persoalannya bukan semata-mata pada kemauan untuk memulai, tetapi bagaimana usaha tersebut dapat berkembang dan bertahan. Banyak usaha mahasiswa berhenti di tengah jalan karena mereka belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai pengelolaan usaha, pemasaran, keuangan, perizinan, akses modal, maupun bagaimana mendapatkan pasar.
Karena itu, menurut saya, program kewirausahaan seperti Campuspreneur jangan hanya berhenti pada peluncuran dan kegiatan seremonial. Mahasiswa yang sudah memiliki ide dan produk harus mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan. Mereka membutuhkan mentor dan lingkungan yang dapat membantu ketika menghadapi persoalan dalam menjalankan usahanya. Mendorong seseorang menjadi entrepreneur tidak cukup hanya dengan memberikan motivasi. Harus ada proses pembinaan yang nyata.
Atas dasar pemikiran tersebut, HIPNUSA telah mendirikan Akademi Entrepreneur, sebuah wadah edukasi dan pembinaan bagi calon pengusaha dan pengusaha muda. Program ini sudah berjalan dan kami kembangkan dengan pendekatan inkubasi. Kami ingin peserta tidak hanya mendapatkan teori kewirausahaan, tetapi mendapatkan pembinaan secara bertahap agar mampu memahami dan menjalankan bisnis secara lebih baik.
Dalam Akademi Entrepreneur, pembinaan diarahkan pada berbagai kebutuhan dasar seorang pengusaha, mulai dari membangun pola pikir kewirausahaan, mengembangkan ide bisnis, mengenali kebutuhan pasar, membangun produk, menyusun strategi pemasaran, mengelola keuangan, membangun jaringan, hingga mempersiapkan usaha agar dapat berkembang. Pendekatan seperti ini menurut saya jauh lebih dibutuhkan oleh pengusaha pemula dibandingkan sekadar mengikuti seminar satu atau dua hari.
Pengalaman saya melihat dunia usaha menunjukkan bahwa banyak orang memiliki keberanian untuk memulai, tetapi tidak semuanya memiliki kemampuan untuk mempertahankan usaha. Ketika penjualan menurun, modal terbatas, pemasaran tidak berjalan atau menghadapi persoalan manajemen, banyak pengusaha pemula akhirnya menyerah. Karena itu, keberadaan mentor dan program inkubasi menjadi sangat penting. Pengusaha muda tidak boleh dibiarkan berjalan sendirian.
HIPNUSA ingin mengambil peran di dalam proses tersebut. Para pengusaha yang sudah lebih dahulu menjalankan bisnis memiliki pengalaman yang sangat berharga untuk dibagikan kepada generasi muda. Pengalaman menghadapi pasar, mengelola karyawan, membangun jaringan, menghadapi kegagalan dan mengembangkan usaha tidak cukup hanya disimpan untuk kepentingan perusahaan masing-masing. Pengalaman tersebut harus bisa menjadi pembelajaran bagi mereka yang baru memulai.
Saya juga berharap Program Campuspreneur dapat berkembang menjadi sebuah gerakan kewirausahaan yang lebih luas. Jika ada mahasiswa yang sudah memiliki produk dan potensinya bagus, harus ada jalan agar produk tersebut bisa masuk ke pasar. Jika sudah memiliki pasar lokal, perlu didorong untuk berkembang ke tingkat nasional. Ketika sudah memenuhi standar dan memiliki kapasitas yang memadai, peluang untuk masuk ke pasar internasional juga harus mulai dibuka.
Untuk mencapai hal tersebut, tentu diperlukan kolaborasi. Pemerintah memiliki kebijakan dan berbagai program pendukung. Perguruan tinggi memiliki mahasiswa, tenaga pendidik dan lingkungan akademik. Dunia usaha memiliki pengalaman dan akses pasar. Sementara organisasi pengusaha seperti HIPNUSA dapat ikut menjadi bagian dari ekosistem yang mempertemukan berbagai potensi tersebut.
Saya tidak ingin HIPNUSA hanya dikenal sebagai organisasi yang berbicara tentang pengusaha. Kami ingin keberadaan HIPNUSA memberikan manfaat yang bisa dirasakan secara langsung, terutama oleh generasi muda yang ingin masuk ke dunia usaha. Melalui Akademi Entrepreneur, kami ingin menyediakan ruang bagi mereka untuk belajar, mendapatkan pendampingan, membangun jaringan dan bertemu dengan pengusaha yang bisa menjadi mentor.
Saya percaya, Indonesia tidak kekurangan anak muda yang kreatif. Yang kita perlukan adalah ekosistem yang membuat kreativitas tersebut bisa berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang nyata. Mahasiswa tidak harus menunggu lulus untuk mulai berusaha. Mereka bisa mulai dari sesuatu yang sederhana, belajar dari pasar, memperbaiki produk, membangun pelanggan dan terus mengembangkan usahanya.
Pada akhirnya, saya melihat Campuspreneur sebagai langkah yang baik untuk mengubah cara pandang mahasiswa terhadap masa depan. Tetapi program ini akan memberikan dampak yang lebih besar jika diikuti dengan pembinaan yang berkelanjutan. Program pemerintah perlu bertemu dengan pengalaman dunia usaha dan pendampingan yang nyata.
HIPNUSA melalui Akademi Entrepreneur siap menjadi bagian dari proses tersebut. Kami terbuka untuk berkolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah, komunitas dan dunia usaha untuk memperluas pembinaan entrepreneurship bagi generasi muda.
Sebab tantangan kita ke depan bukan hanya bagaimana membuat lulusan perguruan tinggi mendapatkan pekerjaan, tetapi juga bagaimana melahirkan generasi yang mampu menciptakan pekerjaan. Jika semakin banyak mahasiswa berani membangun usaha dan usaha tersebut berhasil berkembang, maka semakin banyak pula lapangan pekerjaan yang dapat tercipta.
Kalau semua orang hanya mencari pekerjaan, siapa yang akan menciptakan lapangan pekerjaan? Pertanyaan itulah yang harus mulai kita jawab bersama, dan HIPNUSA ingin menjadi bagian dari jawabannya.
M. Aditya Prabowo
Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nusantara (HIPNUSA)









