Oleh: Muhammad Aditya Prabowo – Ketua Umum HIPNUSA
Beberapa hari yang lalu, saya berbincang santai dengan beberapa anggota HIPNUSA sambil beristirahat setelah bermain driving golf. Obrolannya ringan, tetapi justru dari obrolan seperti itulah saya sering mendapatkan pelajaran yang luar biasa. Saat itu saya teringat bahwa dalam waktu dekat HIPNUSA akan mengadakan sebuah agenda yang menurut saya sangat penting untuk diikuti oleh seluruh anggota. Saya pun mencoba menghubungi beberapa anggota secara pribadi melalui WhatsApp agar ajakan itu terasa lebih dekat dan lebih mengena.
Namun, jawaban yang saya terima hampir sama.
“Next time ya Pak Ketum.”
Sebagian besar kemudian bercerita tentang kondisi ekonomi mereka yang sedang turun. Fokus mereka saat ini adalah bagaimana memenuhi kebutuhan harian. Mereka merasa belum memiliki ruang untuk mengikuti kegiatan organisasi, pelatihan, atau memperluas relasi. Mendengar alasan itu, saya tidak bisa menyalahkan mereka. Justru saya seperti sedang melihat diri saya sendiri lebih dari dua puluh tahun yang lalu.
Saya teringat kembali pada tahun 2003. Saat itu kondisi ekonomi saya benar-benar berada di titik terendah. Jangankan memiliki tabungan, untuk memikirkan makan esok hari saja saya harus berusaha ke sana kemari. Setiap hari yang ada di kepala saya hanyalah bagaimana bertahan hidup. Tidak ada kemewahan, tidak ada kenyamanan, bahkan tidak ada kepastian.
Di masa itu saya memiliki cara berpikir yang ternyata keliru. Saya merasa jika terlalu sering bertemu teman, mengikuti komunitas, atau datang ke berbagai kegiatan, justru akan menambah pengeluaran yang menurut saya tidak penting. Saya memilih menutup diri. Saya membatasi pergaulan dan networking karena berpikir cara itulah yang paling aman untuk menjaga ekonomi.
Ternyata saya salah.
Selama kurang lebih dua tahun, dari 2003 hingga 2005, kehidupan saya tidak berubah menjadi lebih baik. Justru semakin sulit. Semakin saya menutup diri, semakin sedikit peluang yang datang. Saya bekerja siang malam. Puasa sunnah rutin saya jalankan. Shalat wajib tidak pernah saya tinggalkan. Tetapi saya sering bertanya dalam hati, “Ya Allah, mengapa hidup saya tidak berubah? Mengapa ekonomi saya tetap seperti ini?” Bahkan hampir setiap akhir bulan saya harus beradu argumen dengan pemilik kontrakan karena belum mampu membayar tepat waktu.
Sampai suatu hari, ketika pikiran benar-benar penat, saya duduk sendirian di halte Sartika, tepat di depan Rumah Sakit Budiasih. Saat itulah, saya percaya Allah mengirimkan jalan-Nya melalui cara yang sangat sederhana. Ada sebuah brosur pelatihan tentang marketing penjualan rumah yang saya temukan. Saya membacanya dengan penuh harapan. Untuk pertama kalinya saya merasa ada secercah cahaya yang mungkin bisa mengubah hidup saya.
Namun harapan itu kembali runtuh ketika melihat biaya pelatihannya.
Rp150.000.
Bagi sebagian orang mungkin jumlah itu kecil. Tetapi bagi saya saat itu, uang sebesar itu adalah pilihan yang sangat berat. Saya harus memilih, ikut pelatihan atau membeli susu dan makanan untuk anak saya. Malam itu saya berdiskusi dengan istri. Kami sepakat untuk berusaha mencari jalan. Dengan penuh keberanian kami datang ke saudara di Pasar Minggu untuk meminjam uang. Alhamdulillah, kami dipinjamkan Rp500.000 dengan janji akan kami kembalikan dalam waktu tiga bulan.
Saya datang ke pelatihan itu membawa satu hal yang tidak pernah saya tinggalkan, yaitu harapan.
Saya mengikuti setiap materi dengan sungguh-sungguh. Saya pulang dengan semangat baru. Tetapi kenyataannya tidak semudah yang saya bayangkan. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bahkan bulan berganti bulan, saya tetap belum berhasil menjual satu rumah pun. Harapan itu kembali hampir padam.
Tetapi saya memilih untuk tidak berhenti.
Allah kembali mempertemukan saya dengan sebuah komunitas properti yang fokus pada lelang. Di sanalah saya benar-benar ditempa. Saya belajar tentang hukum lelang, strategi pemasaran, cara membangun kepercayaan, hingga memahami dunia properti dari dasar. Ilmu demi ilmu saya kumpulkan. Pengalaman demi pengalaman saya jalani. Dan perlahan-lahan hasilnya mulai terlihat. Saya mulai berhasil menjual properti melalui sistem lelang. Kehidupan saya mulai berubah sedikit demi sedikit.
Dari perjalanan itu saya belajar satu hal yang sangat berharga.
Kesuksesan bukanlah lift yang membawa kita langsung ke lantai atas. Kesuksesan adalah tangga. Setiap anak tangga harus dinaiki satu per satu. Tidak bisa dilompati, tidak bisa dipercepat, dan setiap pijakan memiliki pelajaran yang membentuk kita menjadi lebih kuat.
Karena itulah, kepada seluruh anggota HIPNUSA, saya ingin menyampaikan sebuah pesan dari hati.
Kalau hari ini ekonomi sedang sulit, jangan jadikan itu alasan untuk berhenti belajar, berhenti hadir, atau berhenti membangun jaringan. Justru ketika kondisi sedang sulit, kita membutuhkan ilmu, komunitas, dan lingkungan yang positif lebih dari sebelumnya. Jangan ulangi kesalahan yang pernah saya lakukan dengan menutup diri dari kesempatan.
Saya tidak mengatakan bahwa setiap pelatihan akan langsung mengubah hidup kita. Saya juga tidak mengatakan setiap pertemuan akan langsung menghasilkan uang. Tetapi saya yakin, setiap ilmu, setiap relasi, dan setiap pengalaman adalah anak tangga yang akan mengantarkan kita menuju perubahan.
Kalau dulu saya memilih menyerah, mungkin hari ini saya tidak akan berdiri di hadapan teman-teman sebagai Ketua Umum HIPNUSA.
Maka, ketika ada kegiatan organisasi, pelatihan, atau kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang hebat, jangan buru-buru berkata, “Next time, Pak Ketum.”
Karena bisa jadi, kesempatan yang Anda tunda hari ini adalah pintu yang selama ini Allah siapkan untuk mengubah hidup Anda.
Mari kita bertumbuh bersama. Mari saling menguatkan. Karena saya percaya, orang hebat bukanlah mereka yang tidak pernah jatuh, melainkan mereka yang tetap melangkah meski pernah berada di titik terendah. Dan saya adalah saksi bahwa sukses selalu membutuhkan proses, kesabaran, serta keberanian untuk terus menaiki setiap anak tangga kehidupan.









